Dalam Perjalanan, Tetaplah Berzikir
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 5 Rabiul Akhir 1447 H/ 28 September 2025 M
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
124_dalam-perjalanan-tetaplah-berzikir.pdf · 174.5 KB
Zikrullah, mengingat Allah SWT sebaiknya dibiasakan di setiap saat, baik itu saat seorang Muslim sedang duduk atau dalam perjalanan. Zikir itulah yang membawanya kepada kebaikan, mengalihkannya dari keburukan. Hadis Nabi berikut ini menjelaskan pentingnya zikir di setiap waktu,
رُوَيْنَا فِي كِتَابِ ابْنِ السُّنِّي عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ،عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ قَوْمٍ جَلَسُوا مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ إِلَّا كَانَتْ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ وَمَا سَلَكَ رَجُلٌ طَرِيقًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيه إِلَّا كَانَتْ عَلَيْهِ تِرةٌ".
Artinya: Diriwayatkan kepada kami dalam kitab Ibn Sunni dari Abu Hurairah raḍiyallah 'anhu, dari Nabi ṣallallahu 'alaihi wa sallam, yang bersabda: "Tidaklah suatu kaum yang duduk dalam suatu majelis tanpa menyebut Allah ‘Azza wa jalla di dalamnya, kecuali hal itu akan menjadi kerugian bagi mereka. Dan tidaklah seseorang menempuh suatu jalan tanpa menyebut Allah ‘Azza wa jalla di dalamnya, kecuali hal itu akan menjadi kerugian baginya."
Seorang Muslim bisa menjadikan Al-Quran sebagai zikirnya. Dengan zikir itu, Allah akan memuliakannya di dunia dan akhirat. Kisah sahabat Nabi, Muawiyah bin Muawiyah al-Muzzani dapat menjadi inspirasi kebaikan. Berikut ini keterangan dalam Hadis Nabi,
وَرُوَيْنَا فِي كِتَابِ ابْنِ السُّنِي وَدَلَائِلِ النُّبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِي عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَتَى رَسُولَ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيْلُ عَلَيهِ السَّلَامُ وَهُوَ بِتَبُوكَ فَقَالَ: "يا مُحَمَّدُ! اشْهَدْ جَنازَةَ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُعَاوِيَةَ المُزَنِيّ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَنَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيهِ السَّلَامُ فِي سَبْعِيْنَ ألفًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ فَوَضَعَ جَنَاحَهُ الْأَيْمَنِ عَلَى الْجِبَالِ فَتَوَاضَعَتْ وَوَضَعَ جَنَاحَهُ الْأَيْسَرِ عَلَى الْأَرْضِيْنَ فَتَوَاضَعَتْ حَتَّى نَظَرَ إِلَى مَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَجِبْرِيلُ وَالْمَلَائِكَةُ عَلَيهِمُ السَّلَامُ فَلَمَّا فَرِغَ قَالَ: يَا جِبْرِيلُ! بِمَ بَلَغَ مُعَاوِيَةُ هَذِهِ المَنْزِلَةَ قَالَ: بِقِرَاءَتِه: قُلْ هُوَ اللَّهُ أحَدٌ قَائِمًا وَرَاكبًا وَمَاشِيًا".
Artinya: Diriwayatkan kepada kami dalam kitab Ibn al-Sunni dan kitab Dala’il al-Nubuwwah karya al-Baihaqi dari Abu Umamah al-Bahili raḍiyallahu 'anhu, yang berkata: Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah saw saat beliau berada di Tabuk dan berkata: "Wahai Muhammad! Hadirilah pemakaman Muawiyah bin Muawiyah al-Muzani." Kemudian Rasulullah saw keluar. Jibril turun bersama tujuh puluh ribu malaikat. Jibril meletakkan sayap kanannya di atas gunung-gunung dan malaikat pun merendahkan diri, sedangkan sayap kirinya diletakkan di atas tanah dan malaikat pun merendahkan diri, hingga beliau melihat ke arah Makkah dan Madinah. Rasulullah saw bersama Jibril dan para malaikat menyalati jenazah Muawiyah. Setelah selesai, Rasulullah saw bertanya: "Wahai Jibril, dengan apa Muawiyah bisa mencapai keadaan ini?" Jibril menjawab: Dengan bacaannya, ‘Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa’ yang ia baca ketika berdiri, naik tunggangannya, dan saat ia berjalan.”
Referensi: Imam al-Nawawi, Kitab al-Adzkar.