Meraih Kemerdekaan yang Hakiki
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 24 Safar 1448/9 Agustus 2026
- 2 menit baca
- 5
Materi kajian tersedia
165_meraih-kemerdekaan-yang-hakiki.pdf · 193.2 KB
Merdeka dari sikap imma’ah (ikut-ikutan) yaitu suatu sikap ketika manusia tidak bisa memegang teguh prinsip kebaikan. Ia mudah sekali ikut dengan apa yang banyak orang lakukan. Bahkan, terhadap keburukan sekali pun.
Nabi saw bersabda,
لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً، يَقُولُ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ وَإِنْ أَسَاؤُوا أَسَأْتُ وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاؤُوا أَنْ تُحْسِنُوا.
Artinya: Nabi saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi imma‘ah, yaitu orang yang berkata, ‘Jika manusia berbuat baik, aku pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, aku pun berbuat buruk.’ Akan tetapi, teguhkanlah diri kalian: jika manusia berbuat baik, hendaknya kalian berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, hendaknya kalian tetap berbuat baik.” (HR al-Bukhari).
Merdeka dari dorongan hawa nafsu yang menjauhkannya dari kebenaran
Allah SWT berfirman,
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya) Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran? (QS al-Jāṡiyah [45]: 23).
Mengambil hikmah dari doa Nabi Ibrahim as terhadap kota suci Mekkah sebagai spirit utama dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia
Allah SWT berfirman,
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
Rabbij‘al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahū minaṡ-ṡamarāti man āmana minhum billāhi wal-yaumil-ākhir(i),
Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS al-Baqarah [2]: 126).