Nikmat Agung yang Mengubah Kehidupan
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 17 Rabiul Awal 1447 H/ 30 Agustus 2026 M M
- 2 menit baca
- 2
Materi kajian tersedia
167-nikmat-agung-yang-mengubah-kehidupan.pdf · 164.4 KB
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Āli ‘Imrān [3]: 164.
1. Nasehat terbaik dalam kedukaan. Menurut Ibn ‘Āsyūr, QS. Āli ‘Imrān [3]: 164 hadir sebagai nasihat dalam kedukaan: setelah kaum Muslimin mengalami kekalahan di Uhud, Allah menghibur mereka dengan mengingatkan kembali nikmat-nikmat-Nya. Dengan mengingat nikmat, kesedihan karena kekalahan tidak dibiarkan berkembang menjadi keputusasaan. Ibn ‘Āsyūr berkata,
اِسْتِئْنَافٌ لِتَذْكِيرِ رِجَالِ يَوْمِ أُحُدٍ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِنِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْهِمْ وَمُنَاسَبَةُ ذِكْرِهِ هُنَا أَنَّ فِيهِ مِنَ التَّسْلِيَةِ عَلَى مُصِيبَةِ الْهِزِيمَةِ حَظًّا عَظِيمًا إِذْ قَدْ شَاعَ تَصْبِيرُ الْمَحْزُونِ وَتَعْزِيَتُهُ بِتَذْكِيرِهِ مَا هُوَ فِيهِ مِنَ النِّعَمِ
“Ayat ini kembali mengingatkan para sahabat yang mengalami Perang Uhud dan kaum mukminin lainnya tentang berbagai nikmat Allah yang mereka terima. Penyebutan nikmat itu sangat tepat dalam suasana setelah kekalahan, karena dapat menjadi penghibur bagi hati yang sedang terluka. Sebab, salah satu cara untuk menguatkan orang yang sedang berduka adalah dengan mengingatkannya kembali pada nikmat-nikmat yang masih ia miliki.” (Ibn ‘Āsyūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr).
2. Nikmat terbesar adalah diutusnya Rasulullah saw. Keistimewaan nikmat tersebut semakin besar karena Rasulullah bukan malaikat, melainkan manusia seperti mereka. Syekh al-Sya‘rāwī berkata,
أَكَانَ يَبْعَثُهُ مَلَكًا لَا بَلْ بَعَثَهُ مِنَ الْبَشَرِيَّةِ كَيْ تَكُونَ الْأُسْوَةُ فِيهِ مَعْقُولَةً. وَالْمَفْهُومُ فِي الرَّسُولِ أَنْ يَكُونَ أُسْوَةً سُلُوكِيَّةً وَأَنْ يَكُونَ مُبَلِّغًا عَنِ اللَّهِ مَنْهَجَهُ وَأَنْ يُعْلِنَ بَشَرِيَّتَهُ وَيَقُولَ: أَنَا بَشَرٌ وَأَسْتَطِيعُ أَنْ أُمَثِّلَ وَأُطَبِّقَ الْمَنْهَجَ. إِذَنْ فَهُوَ أُسْوَةٌ سُلُوكِيَّةٌ تَطْبِيقِيَّةٌ
“Apakah Allah mengutus seorang malaikat? Tidak. Allah mengutus Rasul dari kalangan manusia, agar beliau dapat menjadi teladan yang masuk akal dan dapat diikuti. Seorang Rasul harus menjadi teladan dalam perilaku, menyampaikan jalan hidup yang berasal dari Allah, sekaligus menunjukkan sisi kemanusiaannya. Seakan-akan beliau berkata: ‘Aku adalah manusia dan aku mampu menjalankan serta menerapkan ajaran ini.’ Karena itu, Rasulullah adalah teladan yang nyata dan dapat dipraktikkan dalam kehidupan.”
3. Risalah yang mengubah kehidupan: wahyu, penyucian jiwa dan ilmu.
Setelah menyebut nikmat diutusnya Rasulullah saw, Allah SWT menjelaskan buah dari risalah beliau: membacakan wahyu, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Al-Kitab dan hikmah. Ketiganya merupakan satu rangkaian yang saling melengkapi. Wahyu memberi arah, tazkiyah membersihkan dan membentuk hati, dan ilmu membimbing manusia untuk menjalankan petunjuk tersebut dalam kehidupan.