Kajian ke-158

Menjemput Rezeki yang Berkah

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 6 Muharram 1448/ 21 Juni 2026
  • 2 menit baca
  • 2
Pratinjau video Menjemput Rezeki yang Berkah

Materi kajian tersedia

158_menjemput-rezeki-yang-berkah.pdf · 211.3 KB

Unduh PDF

Mengimani kemahabijaksanaan Allah dalam pembagian rahmat

Sebagai fondasi utama ’izzah (kehormatan diri), seorang muslim harus yakin bahwa semua pintu karunia berada di tangan Allah. Tidak ada makhluk yang bisa menghalangi apa yang Allah beri dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Allah tahan. Allah SWT berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۚوَمَا يُمْسِكْۙ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya: Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya. (Demikian pula) apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Fāṭir [35]: 2).

Mencari rezeki dengan cara yang halal (ijmāl fit-thalab)

Karena jatah rezeki setiap makhluk sudah ditetapkan dan dijamin tidak akan tertukar, maka seorang mukmin yang menjaga kehormatan dirinya tidak akan pernah menurunkan derajatnya dengan cara mengemis atau bermaksiat demi materi. Nabi saw bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ إِنَّ الرُّوحَ الْقُدُسَ نَفَثَ فِي رَوْعِي: أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya. Sesungguhnya Malaikat Jibril (Malaikat Kudus) telah membisikkan ke dalam benakku: bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga ia menyempurnakan seluruh (jatah) rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Dan janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara-cara bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya." (HR al-Hakim, al-Baihaqi).

Tidak diperbudak oleh penilaian manusia

Puncak ’izzah adalah ketika hati kita terbebas dari ketergantungan pada makhluk. Kita tidak mencari muka demi mendapatkan kesenangan manusia, tidak memuji berlebihan karena pamrih, dan tidak mencela orang lain ketika keinginan duniawi kita tidak terpenuhi. Jiwa yang merdeka tahu bahwa manusia hanyalah perantara, bukan penentu takdir. Nabi saw bersabda,

لَا تُرْضِيَنَّ أَحَدًا بِسَخَطِ اللَّهِ وَلَا تَحْمَدَنَّ أَحَدًا عَلَى فَضْلِ اللَّهِ وَلَا تَذُمَّنَّ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ رِزْقَ اللَّهِ لَا يَسُوقُهُ إِلَيْكَ حِرْصُ حَرِيصٍ وَلَا يَرُدُّهُ عَنْكَ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ وَإِنَّ اللَّهَ بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الرِّضَا وَالْيَقِينِ وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي السُّخْطِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., Nabi saw bersabda: "Janganlah sekali-kali engkau mencari rida (kesenangan) seseorang dengan cara membuat Allah murka. Janganlah sekali-kali engkau memuji seseorang atas karunia yang sejatinya dari Allah, dan jangan pula mencela seseorang atas apa yang tidak Allah berikan kepadamu. Sesungguhnya rezeki Allah tidak dapat digiring kepadamu oleh ambisi orang yang sangat menginginkannya, dan tidak pula dapat ditolak darimu oleh kebencian orang yang membencinya. Sesungguhnya Allah dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, menjadikan ketenangan dan kegembiraan berada di dalam keridaan dan keyakinan, serta menjadikan kegundahan dan kesedihan berada di dalam kemurkaan (ketidakpuasan terhadap takdir)." (HR Tabrani).

Bagikan: