Menjaga Kemuliaan Diri di Tengah Badai Ujian
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 28 Zulhijjah 1447/ 14 Juni 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
157_menjaga-kemuliaan-diri-di-tengah-badai-ujian.pdf · 188.5 KB
Salah satu akhlak mulia yang senantiasa menjadi kekuatan utama seorang muslim ketika dihantam badai ujian adalah kemampuannya dalam menjaga al-’Izzah yaitu martabat dan harga diri seorang beriman. Syekh Muhammad al-Ghazali dalam kitab Khuluq al-Muslim menuntun kita untuk memahami bahwa Islam mendidik setiap mukmin untuk memiliki wibawa jiwa yang kokoh di hadapan sesama manusia. Orang yang beriman dipandu untuk tetap tegak dan mulia; ia mampu menjaga keteguhan hatinya saat kekurangan, serta menaruh harapan dan sandaran hidupnya hanya kepada Allah Yang Mahakaya. Sore hari ini, kita akan mengupas dua prinsip utama dari kitab tersebut tentang bagaimana cara menjaga 'izzah agar kita tetap tampil sebagai hamba Allah yang terhormat di tengah setiap dinamika kehidupan, yaitu:
Menjaga lisan dan hati saat badai ujian menerpa
Ujian hidup adalah kepastian, namun menjaga martabat iman ('izzah) di tengah kesulitan adalah pilihan jiwa yang mulia. Sebagai hamba yang berwibawa, seorang muslim dilarang meruntuhkan harga dirinya dengan meratapi takdir atau mengemis iba kepada makhluk yang sama-sama lemah. Terkait pentingnya menjaga keteguhan hati dan lisan saat badai ujian menerpa, Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ حَزِينًا عَلَى الدُّنْيَا أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى رَبِّهِ وَمَنْ أَصْبَحَ يَشْكُو مُصِيبَةً نَزَلَتْ بِهِ فَإِنَّمَا يَشْكُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ تَضَعْضَعَ لِغَنِيٍّ لِيَنَالَ مِنْ دُنْيَاهُ أَحْبَطَ اللَّهُ ثُلُثَيْ عَمَلِهِ وَمَنْ أُعْطِيَ الْقُرْآنَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ
Artinya: “Barangsiapa yang merasa sedih karena urusan dunia, maka ia telah murka kepada Tuhannya. Barangsiapa yang mengeluhkan musibah yang menimpanya, maka sejatinya ia sedang mengeluhkan Allah 'Azza wa Jalla. Barangsiapa yang merendahkan dirinya di hadapan orang kaya demi mendapatkan sebagian dari dunianya, maka Allah telah menghapuskan dua pertiga amalnya. Dan barangsiapa yang telah dikaruniai (hafalan/pemahaman) Al-Qur'an namun (karena kemaksiatannya) ia masuk neraka, maka Allah telah menjauhkannya (dari rahmat-Nya).” (HR al-Tabrani).
Memahami bahwa kemuliaan hanya milik Allah
Satu-satunya alasan mengapa ada orang yang meratapi takdir dan rela merendahkan kehormatan dirinya demi harta dan kedudukan adalah karena ia salah dalam memandang sumber kemuliaan. Hadis di atas secara tegas memperingatkan kita agar tidak terjebak ke dalam jalur kehinaan akibat silau oleh tipu daya duniawi. Sebaliknya, Islam menuntun kita untuk menempuh jalur kemuliaan hakiki dengan cara menjaga harga diri dan mengembalikan seluruh orientasi (tujuan) hidup hanya kepada Sang Pencipta. Menegaskan batasan suci antara kedua jalan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًاۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ۗوَالَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَمَكْرُ اُولٰۤىِٕكَ هُوَ يَبُوْرُ
Artinya: Siapa yang menghendaki kemuliaan (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik631) dan amal saleh akan diangkat-Nya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan akan mendapat azab yang sangat keras dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Fatir: 10).