Tafsir Surat al-Fatihah Syekh Nawawi al-Bantani
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 13 Muharram 1448/ 28 Juni 2026
- 3 menit baca
- 2
Materi kajian tersedia
159_tafsir-surat-al-fatihah-syekh-nawawi-al-bantani.pdf · 201.1 KB
Mukadimah
Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1897) dalam Kitab Marāḥ Labīd li-Kasyf Ma'nā al-Qur'ān al-Majīd mengawali tafsir Surat al-Fātiḥah dengan menjelaskan bahwa surat ini merupakan surah Makkiyyah yang terdiri atas tujuh ayat. Beliau juga menyinggung perbedaan pendapat ulama mengenai kedudukan basmalah sebagai bagian dari al-Fātiḥah. Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa al-Fātiḥah merupakan ringkasan seluruh kandungan Al-Qur'an. Menurutnya, surat ini menghimpun empat cabang utama ilmu agama, yaitu (1) ilmu akidah yang mencakup ketuhanan, kenabian, dan hari akhir; (2) ilmu syariat yang mengatur ibadah dan seluruh aspek kehidupan; (3) ilmu akhlak yang mengarahkan manusia untuk istiqamah di jalan Allah; serta (4) ilmu kisah, yaitu pelajaran dari perjalanan orang-orang yang mendapat nikmat dan mereka yang dimurkai maupun tersesat. Al-Fātiḥah tidak hanya menjadi surat pembuka, tetapi juga fondasi ajaran Islam yang merangkum pokok-pokok keimanan, ibadah, dan tuntunan hidup seorang muslim.
Penafsiran Ayat-ayat Al-Fātiḥah
Syekh Nawawi memulai penafsiran dengan basmalah sebagai pintu untuk mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Selanjutnya, al-ḥamdu lillāh dipahami sebagai pujian dan rasa syukur atas seluruh nikmat Allah, terutama nikmat iman. Adapun Rabb al-'ālamīn menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur seluruh alam. Sifat al-Raḥmān menggambarkan kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk, sedangkan al-Raḥīm menunjukkan rahmat khusus bagi orang-orang beriman berupa ampunan dan balasan surga. Sementara itu, Māliki Yawm al-Dīn mengingatkan bahwa pada hari pembalasan kelak hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak.
Pada firman iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn, Syekh Nawawi menegaskan bahwa seorang mukmin hanya beribadah kepada Allah dan hanya memohon pertolongan kepada-Nya. Menurut beliau, tidak ada kemampuan meninggalkan maksiat kecuali dengan penjagaan Allah, dan tidak ada kekuatan menjalankan ketaatan kecuali dengan taufik-Nya. Karena itu, doa ihdinā al-ṣirāṭ al-mustaqīm dimaknai sebagai permohonan agar Allah senantiasa menambah dan menjaga hidayah sehingga seorang hamba tetap istiqamah di atas agama Islam.
Selanjutnya, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ṣirāṭ al-ladzīna an'amta 'alaihim adalah jalan para nabi, orang-orang yang benar (ṣiddīqīn), para syuhada, dan orang-orang saleh yang memperoleh nikmat petunjuk dari Allah. Sebaliknya, ghair al-maghḍūbi 'alaihim wa lā al-ḍāllīn merupakan doa agar dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Beliau menyebut pendapat yang masyhur bahwa yang dimaksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani, di samping pendapat lain yang memaknainya sebagai kaum kafir dan kaum munafik. Dengan demikian, al-Fātiḥah bukan sekadar doa yang dibaca dalam setiap rakaat salat, tetapi juga pedoman untuk memilih jalan hidup yang diridai Allah dan menjauhi jalan yang mengantarkan kepada kemurkaan dan kesesatan. Sebagai penutup, Syekh Nawawi menjelaskan kesunnahan mengucapkan Āmīn setelah membaca al-Fātiḥah sebagai ungkapan harapan agar Allah mengabulkan doa-doa yang terkandung di dalamnya.