Ketika Sujud Menjadi Jalan Kemuliaan
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 21 Zulhijjah 1447/ 7 Juni 2026
- 3 menit baca
- 2
Materi kajian tersedia
156_ketika-sujud-menjadi-jalan-kemuliaan.pdf · 204.6 KB
وَلَهُ الْكِبْرِيَاۤءُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya: Hanya bagi-Nya segala kebesaran di langit dan bumi. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Jatsiyah [45]: 37)
Kebesaran mutlak hanyalah milik Allah
Ayat ini menegaskan bahwa kebesaran dan keagungan sejati hanyalah milik Allah. Dialah yang menciptakan, memelihara, dan mengatur seluruh alam semesta. Semua makhluk berada di bawah kekuasaan-Nya, sementara segala nikmat yang mereka miliki berasal dari karunia-Nya. Karena itu, kesombongan bukanlah sifat yang pantas dimiliki manusia. Ketika seseorang merasa dirinya lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, atau lebih berpengaruh daripada orang lain, sesungguhnya ia sedang melupakan hakikat dirinya sebagai hamba. Padahal semua yang dimilikinya hanyalah titipan yang dapat diambil kembali kapan saja. Kesadaran bahwa kebesaran hanya milik Allah akan melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan seorang mukmin dari sifat sombong.
Ketundukan kepada Allah adalah kebenaran, bukan kehinaan
Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa kerendahan seorang hamba di hadapan Allah adalah kerendahan yang benar, bukan kehinaan yang tercela. Sebab penciptaan, kekuasaan, kerajaan, dan seluruh urusan kehidupan berada dalam genggaman Allah semata. Bahkan perjalanan hidup dan akhir nasib manusia pun berada di bawah kehendak-Nya. Oleh karena itu, tunduk kepada Allah bukanlah bentuk kelemahan, melainkan pengakuan terhadap kenyataan yang sesungguhnya. Kehinaan yang sebenarnya justru terjadi ketika seseorang merendahkan dirinya demi dunia, mengejar pujian manusia, atau menggantungkan harga dirinya kepada makhluk. Adapun seorang mukmin yang tunduk kepada Allah sedang menempatkan dirinya pada posisi yang benar sebagai hamba di hadapan Rabb-nya.
Sujud adalah saat manusia mengenal hakikat dirinya
Menurut al-Ghazali, manusia berada dalam keadaan paling bersih dan paling mulia ketika dahinya menyentuh tanah dalam sujud yang khusyuk. Pada saat itu, ia menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Ia memahami bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, terbatas, dan selalu membutuhkan pertolongan Allah. Sebaliknya, Allah adalah Rabb Yang Mahakuasa, Mahakaya, dan Mahasempurna. Dalam sujud, seorang hamba belajar mengenal batas-batas dirinya, melepaskan kesombongan yang tersembunyi di dalam hati, serta mengakui kebesaran Allah dengan penuh ketundukan. Karena itu, sujud bukan sekadar gerakan fisik dalam salat, melainkan momentum pengenalan diri dan pengenalan kepada Allah.
Islam melarang kesombongan dan kehinaan
Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa sebagaimana Islam melarang kesombongan, Islam juga melarang seorang mukmin menghinakan dirinya di hadapan sesama manusia. Kesombongan membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain, sedangkan sikap menghinakan diri menunjukkan ketidaksadaran akan martabat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Karena itu, Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi, Allah akan melemparkannya ke dalam neraka dengan wajah tersungkur" (HR. Ahmad). Dalam hadis lain beliau bersabda, "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan pakaian yang membuatnya kagum pada dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, dan ia melangkah dengan penuh kesombongan, tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi. Maka ia terus terbenam ke dalam bumi hingga Hari Kiamat" (HR. al-Bukhari). Kemuliaan seorang mukmin tidak lahir dari kesombongan, tetapi juga tidak tumbuh dari sikap menghinakan diri. Kemuliaan sejati lahir dari ketundukan kepada Allah dan penghormatan terhadap martabat yang telah Allah anugerahkan kepadanya.