Mengapa Ibadah di Zulhijjah Istimewa
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 30 Zulkaidah 1447/ 17 Mei 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
154_mengapa-ibadah-di-zulhijjah-istimewa.pdf · 155.9 KB
Ibadah di bulan Zulhijjah nilainya istimewa di sisi Allah SWT, terutama pada 10 hari pertama. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad saw berikut ini:
(( مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ ))؛
Artinya: Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla daripada hari-hari ini,” yaitu sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bahkan tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Bahkan tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apa pun.” (HR. Ahmad).
Bahkan di sepuluh awal Zulhijjah, ada satu hari yang nilainya istimewa di sisi Allah, yaitu hari Arafah tanggal 9 Zulhijjah. Keagungan hari itu tergambar dalam keterangan Baginda Nabi saw berikut ini:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
Artinya: Dari Aisyah r.a., Nabi saw bersabda, “Tidak ada satu hari pun di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka selain Hari Arafah. Pada hari itu Allah mendekat, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh hamba-hamba-Ku ini?” (HR Muslim).
Kemuliaan bulan Zulhijjah merupakan ketentuan dari Allah. Dalam menyikapi kemuliaan tersebut, seorang Mukmin tentu akan menghubungkannya dengan iradah (kehendak) Allah. Bahwa pasti ada hikmah dan manfaat besar bagi umat manusia di balik pemuliaan itu. Syekh al-Qaradhawi menyebutnya dengan istilah: “urusan ilahi”. Inilah rahasia keistimewaan tersebut.
" التَّفْضِيلُ وَالتَّخْصِيصُ وَالِاجْتِبَاءُ شَأْنٌ إِلَهِيٌّ , مِنْ شَأْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُفَضِّلَ بَعْضَ الْأَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ وَبَعْضَ الشُّهُورِ عَلَى بَعْضٍ وَبَعْضَ السَّاعَاتِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ عَلَى بَعْضٍ كَمَا يُفَضِّلُ بَعْضَ الْأَمَاكِنِ عَلَى بَعْضٍ."
“Tafdhīl (pengutamaan), takhshīsh (pengkhususan), dan ijtibā’ (pemilihan) merupakan urusan ilahi. Di antara kehendak Allah mengutamakan sebagian hari atas hari yang lain, sebagian bulan atas bulan yang lain, dan sebagian waktu di malam maupun siang atas waktu lainnya, sebagaimana Allah juga mengutamakan sebagian tempat atas tempat yang lain.”