Rahasia Doa Nabi Musa
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 23 Zulkaidah 1447/ 10 Mei 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
152_rahasia-doa-nabi-musa.pdf · 260.2 KB
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
Rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī.
Artinya: “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS Ṭāhā [20]: 25 - 28).
Kita urai yang pertama, kelapangan dada (Syarhuṣ-Ṣadr). Mengapa ini yang pertama?
Seorang mufasir, al-Sa’di menjelaskan salah satu jawabannya sebagai berikut:
أَيْ: وَسِّعْهُ وَأَفْسِحْهُ لِأَتَحَمَّلَ الْأَذَى الْقَوْلِيَّ وَالْفِعْلِيَّ وَلَا يَتَكَدَّرَ قَلْبِي بِذٰلِكَ، وَلَا يَضِيقَ صَدْرِي، فَإِنَّ الصَّدْرَ إِذَا ضَاقَ، لَمْ يَصْلُحْ صَاحِبُهُ لِهِدَايَةِ الْخَلْقِ وَدَعْوَتِهِمْ.
“Maksudnya: Luaskanlah dan lapangkanlah dadaku agar aku mampu menahan gangguan, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dengan begitu, hatiku tidak menjadi keruh dan dadaku tidak merasa sesak. Sebab, jika dada seseorang sudah sempit, ia tidak akan sanggup lagi memberi petunjuk dan mengajak orang lain (kepada kebaikan).” (Sumber: Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān)
Bagian kedua, kemudahan urusan. Al-Sa’di menjelaskan makna doa kedua Nabi Musa:
أَيْ: سَهِّلْ عَلَيَّ كُلَّ أَمْرٍ أَسْلُكُهُ، وَكُلَّ طَرِيقٍ أَقْصِدُهُ فِي سَبِيلِكَ، وَهَوِّنْ عَلَيَّ مَا أَمَامِي مِنَ الشَّدَائِدِ.
“Maksudnya: Mudahkanlah bagiku setiap urusan yang aku jalani dan setiap jalan yang aku tempuh demi mencari rida-Mu, serta ringankanlah berbagai kesulitan yang ada di hadapanku.” (Sumber: Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān).
Bagian ketiga, komunikasi yang efektif. Nabi Musa tidak minta menjadi orator hebat, belau hanya minta agar ucapannya dipahami. Mengapa Nabi Musa berdoa hanya begitu saja? Penjelasan seorang mufasir klasik, Ibn Kasir menarik untuk kita perhatikan:
وَذٰلِكَ لِمَا كَانَ أَصَابَهُ مِنَ اللُّثْغِ، حِينَ عُرِضَ عَلَيْهِ التَّمْرَةُ وَالْجَمْرَةُ، فَأَخَذَ الْجَمْرَةَ فَوَضَعَهَا عَلَىٰ لِسَانِهِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ. وَمَا سَأَلَ أَنْ يَزُولَ ذٰلِكَ بِالْكُلِّيَّةِ، بَلْ بِحَيْثُ يَزُولُ الْعِيُّ، وَيَحْصُلُ لَهُمْ فَهْمُ مَا يُرِيدُ مِنْهُ، وَهُوَ قَدْرُ الْحَاجَةِ. وَلَوْ سَأَلَ الْجَمِيعَ لَزَالَ، وَلٰكِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَا يَسْأَلُونَ إِلَّا بِحَسْبِ الْحَاجَةِ، وَلِهٰذَا بَقِيَتْ بَقِيَّةٌ، قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ إِخْبَارًا عَنْ فِرْعَوْنَ أَنَّهُ قَالَ: { أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ } أَيْ: يُفْصِحُ بِالْكَلَامِ
“Hal ini karena Nabi Musa pernah mengalami cedera pada lidah (cadel). Kisahnya, saat beliau disodori pilihan antara kurma dan bara api (oleh Firaun sewaktu kecil), beliau mengambil bara api lalu meletakkannya di atas lidahnya—sebagaimana penjelasan detailnya akan datang nanti. Nabi Musa tidak meminta agar kekakuan itu hilang sepenuhnya, melainkan hanya meminta agar hambatan bicaranya hilang dan orang-orang bisa memahami maksud ucapannya. Jadi, beliau meminta sesuai kadar kebutuhan saja. Seandainya beliau meminta hilang semuanya, pasti akan hilang. Namun, para Nabi hanya meminta sesuatu sesuai kebutuhan. Itulah mengapa masih ada sedikit sisa (kekakuan lidah), sehingga Allah menceritakan perkataan Firaun: Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? (QS az-Zukhruf: 52) Maksudnya: Tidak fasih dalam berbicara." (Sumber: Tafsīr Al-Qur’ān al-‘aẓīm).