Menyambut Bulan Rajab
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447/ 14 Desember 2025
- 3 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
135_menyambut-bulan-rajab.pdf · 149.3 KB
Dengan cara menggali makna yang ada pada ayat yang berkenaan dengan empat bulan suci dalam Al-Qur’an. Ayat tersebut adalah firman Allah SWT berikut ini:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (QS at-Taubah [9]: 36).
Imam al-Qurtubi dalam Kitab Tafsirnya menyampaikan beberapa penjelasan terkait ayat ini, antara lain pentingnya mengedepankan totalitas keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kemahagungan Allah. Al-Qurtubi berkata, “Tidak pantas mempertanyakan mengapa Allah menjadikan sebagian waktu lebih mulia dan lebih terhormat daripada waktu yang lain, karena Allah sebagai Sang Pencipta berhak sepenuhnya melakukan apa yang Dia kehendaki dan mengkhususkan keutamaan kepada siapa atau apa saja yang Dia kehendaki. Perbuatan-Nya tidak terikat oleh sebab tertentu dan tidak ada satu pun yang dapat membatasi-Nya; Dia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya berdasarkan hikmah, yang terkadang dapat dipahami oleh manusia dan terkadang tersembunyi dari pengetahuan mereka.”
Dengan cara membaca kembali peristiwa haji Wada’. Ketika Nabi saw menyampaikan syariat penetapan bilangan bulan dalam khutbah beliau. Nabi saw bersabda,
أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فِي حُجَّتِهِ فَقَالَ : إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُوْ الْقَعْدَةِ وَذُو اْلحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Artinya: Dari Abu Bakrah r.a., sesungguhnya Nabi saw berkhutbah pada saat haji beliau (haji Wada’), beliau bersabda: "Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu: Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudzar, yaitu bulan yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya'ban." (HR Abu Dawud).
Mengikuti ketentuan fatwa lembaga keagamaan, misalnya Lembaga Fatwa al-Azhar Mesir, yang membahas bulan Rajab. Dalam fatwanya, Al-Azhar, menjelaskan bahwa bulan Rajab disebut al-Ashamm (yang sunyi) dan al-Fard (yang sendiri), karena ia terpisah dari tiga bulan haram lainnya yang datang berurutan. Bulan ini juga disebut Rajab Mudhar karena kabilah Mudhar sangat memuliakannya. Sejak sebelum Islam, Rajab sudah memiliki kedudukan istimewa di kalangan Arab, bahkan diberi berbagai nama sebagai bentuk penghormatan, di antaranya al-Ashamm karena mereka menghentikan peperangan pada bulan ini. Selain itu, Rajab memiliki keutamaan spiritual yang besar karena di dalamnya terjadi peristiwa Isra dan Mi‘raj, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah dakwah Islam. Oleh sebab itu, bulan Rajab dipandang sebagai waktu yang baik untuk bertaubat, memperbanyak doa, puasa, sedekah, istighfar, serta meningkatkan amal kebaikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala.