Kajian ke-136

Menyelami Etika Dalam Majelis

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 1 Rajab 1447/ 21 Desember 2025
  • 3 menit baca
  • 1
Pratinjau video Menyelami Etika Dalam Majelis

Materi kajian tersedia

136_menyelami-etika-dalam-majelis.pdf · 169.2 KB

Unduh PDF

Etikanya orang beriman (kaum Mukmin) ketika sedang berada di dalam majelis.

Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS al-Mujadalah [58]: 11).

QS al-Mujadalah ayat 11 ini berkenaan dengan majelisnya Baginda Nabi.

Seorang Tabi’i terkemuka, Muqatil bin Hayyān mengisahkan peristiwa yang terjadi di dalam majelis Nabi. Beliau berkata: “ ... Ketika Rasulullah saw berada di ash-Ṣuffah dan tempat itu sempit. Beliau memuliakan para sahabat ahli Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Pada saat itu datang beberapa sahabat ahli Badar, sementara majelis telah lebih dahulu terisi. Mereka berdiri di hadapan Rasulullah saw dan mengucapkan salam, yang kemudian dibalas oleh Nabi, lalu mereka memberi salam kepada orang-orang yang duduk dan salam itu pun dibalas. Mereka tetap berdiri menunggu agar diberi kelapangan tempat, dan Rasulullah saw memahami maksud mereka, namun beliau tidak segera melapangkan tempat bagi mereka, sehingga hal itu terasa berat bagi beliau. Maka Nabi saw berkata kepada sebagian Muhajirin dan Anshar yang bukan ahli Badar, “Berdirilah engkau, wahai Fulan, dan engkau juga, wahai Fulan,” hingga jumlah orang yang berdiri sebanding dengan jumlah ahli Badar yang sedang berdiri di hadapan beliau. Hal itu terasa berat bagi orang-orang yang diminta berdiri dari tempat duduk mereka, dan Rasulullah saw melihat ketidaksenangan di wajah mereka. Orang-orang munafik pun berkata, “Bukankah kalian mengira bahwa sahabat kalian ini berlaku adil di antara manusia? Demi Allah, kami tidak pernah melihatnya berlaku adil dalam hal ini; ada orang-orang yang telah lebih dahulu duduk dan mencintai kedekatan dengan Nabi mereka, namun beliau menyuruh mereka berdiri dan justru mendudukkan orang-orang yang datang belakangan.” Sampai kepada kami bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang melapangkan tempat bagi saudaranya,” sehingga setelah itu mereka segera berdiri dan orang-orang pun saling melapangkan tempat bagi saudara-saudara mereka, dan ayat ini pun diturunkan pada hari Jumat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Membawa ayat ini dalam kehidupan sehari-hari.

Sayyid Qutb, satu di antara beberapa mufasir yang tidak ingin berhenti hanya dalam bacaan ayat, ia berusaha menghubungkan ayat ini dengan kehidupan masyarakat Muslim dan dengan inti ajaran agama Islam. Sayyid Qutb mengatakan, “Demikianlah Al-Qur’an mengambil peran dalam membina dan menyucikan jiwa (manusia), mendidiknya agar lapang (dada), toleran, dan taat, dengan gaya yang menggugah dan menggerakkan perasaan. Sebab agama (Islam) bukan sekadar kumpulan kewajiban yang bersifat harfiah, melainkan sebuah perubahan batin serta kepekaan nurani.” (Tafsir fi ẓilāl Al-Qur’ān).

Bagikan: