Kajian ke-134

Rahmat Jalan Kebahagiaan

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 16 Jumadil Akhir 1447/ 7 Desember 2025
  • 2 menit baca
  • 1
Pratinjau video Rahmat Jalan Kebahagiaan

Materi kajian tersedia

134_rahmat-jalan-kebahagiaan.pdf · 150.4 KB

Unduh PDF

Sungguh, hakekat rahmat Allah itu luar biasa agungnya. Karena itu, sangatlah wajar ketika para hamba-Nya yang telah memahaminya sangat mendambakan memperoleh rahmat Allah tidak hanya di dunia ini saja, melainkan juga di akhirat kelak. Nabi saw menjelaskan kepada kita tentang bagaimana hakekat rahmat Allah dan kaitannya dengan kehidupan makhluknya di alam semesta ini dalam sebuah Hadis di bawah ini, yaitu:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الْأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ القِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهذِه الرَّحْمَةِ.

Artinya: Dari Salman al-Farisi r.a., Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah, pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, menciptakan seratus rahmat. Setiap satu rahmat (besarnya) memenuhi jarak antara langit dan bumi. Lalu dari seratus itu, Dia menurunkan satu rahmat ke bumi; dengan rahmat itulah seorang ibu mencintai anaknya, dan dengannya pula binatang liar maupun burung saling berkasih sayang. Maka apabila hari Kiamat tiba, Allah akan menyempurnakan rahmat-Nya dengan menambahkan yang sembilan puluh sembilan lainnya.” (HR Muslim).

Dari sirah (sejarah kehidupan) Nabi saw, kita mengetahui bahwa Rasulullah saw adalah sosok yang sangat menyayangi keluarganya. Sifat rahmat (kasih sayang) Nabi saw kepada keluarga, antara lain terlihat ketika putra beliau, Ibrahim wafat. Al-hasil, menyayangi keluarga tidak lain merupakan nikmat dari Allah yang patut kita syukuri. Anas bin Malik mengisahkan peristiwa duka ketika Ibrahim wafat sebagai berikut,

دَخَلْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ القَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فأخَذَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إبْرَاهِيْمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

Artinya: Dari Anas bin Malik r.a., berkata: “Kami masuk bersama Rasulullah saw menemui Abu Saif al-Qain, suami dari ibu persusuan Ibrahim. Rasulullah saw menggendong Ibrahim, menciumnya dan memeluknya. Ketika kami masuk lagi setelah itu, Ibrahim sedang berada dalam sakaratul maut, lalu kedua mata Rasulullah saw pun meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Engkau pun menangis, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ibn Auf, ini adalah rahmat (kasih sayang).’ Kemudian beliau kembali meneteskan air mata dan bersabda, ‘Sesungguhnya mata bisa menangis dan hati bisa berduka, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Rabb kami. Dan sungguh, kami benar-benar bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hilangnya rahmat, maknanya hilangnya kebahagiaan, diganti dengan kesengsaraan.

Nabi saw bersabda,

لَا تُنزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw bersabda, “Rahmat (kasih sayang) itu tidak dicabut kecuali dari orang yang celaka (sengsara).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad).

Bagikan: