Kajian ke-129

Etika Berbicara

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 11 Jumadil Awal 1447/ 2 November 2025
  • 2 menit baca
  • 2
Pratinjau video Etika Berbicara

Materi kajian tersedia

129_etika-berbicara.pdf · 231.3 KB

Unduh PDF

Menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan manusia berbicara dan menjelaskan segala sesuatu itu adalah nikmat yang besar. Syekh al-Ghazali dalam kitab Khuluq al-Muslim menyebutnya ni’mah al-bayān (nikmat menjelaskan). Karena nikmat inilah, Allah SWT memuliakan manusia dari semua ciptaan-Nya. Besarnya nikmat bicara, nasehat Syekh al-Ghazali, seharusnya sebanding dengan besarnya rasa syukur manusia kepada Penciptanya. Mari renungi firman Allah berikut ini:

اَلرَّحْمٰنُ. عَلَّمَ الْقُرْاٰنَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ.

Ar-ramān(u). ‘Allamal-qur'ān(a). Khalaqal-insān(a). ‘Allamahul-bayān(a).

Artinya: (Allah) Yang Maha Pengasih, telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan. (QS ar-Rahman [55]: 1-4).

Berbicara, kadangkala tidak terkendali. Itu karena manusia dengan kemampuan berbahasanya mampu menjelaskan segala sesuatu atau mengomentari apa pun yang terjadi. Tidak selalu apa yang dibicarakan itu baik. Islam hadir menuntun manusia untuk mengetahui dan memahami bahwa bicara itu pada dasarnya yang baik-baik saja. Yang baik-baik itu, Allah SWT jelaskan dalam ayat-Nya berikut ini,

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Lā khaira fī kaīrim min najwāhum illā man amara biadaqatin au ma‘rūfin au iim bainan-nās(i), wa may yaf‘al żālikabtigā'a marātillāhi fa saufa nu'tīhi ajran ‘aīmā(n).

Artinya: Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar. (QS an-Nisa’ [4]: 114).

Lebih jauh lagi, ternyata perkataan yang baik itu ada hubungannya dengan keimanan. Nabi Muhammad saw yang langsung menyingkap rahasia agung ini sebagai pesan kenabian yang ditujukan kepada orang beriman secara khusus, dan seluruh manusia secara umum. Artinya, iman yang baik itu selaras dengan perkataan yang baik. Nabi saw bersabda,

لَا يَسْتَقِيْمُ إِيَمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ وَ لَا يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ لِسَانُهُ

Artinya: Dari Anas bin Malik r.a., Nabi saw bersabda, “Tidak akan lurus (istiqamah) iman seorang hamba sampai hatinya lurus (istiqamah). Dan, hatinya tidak akan lurus (istiqamah) sampai lisan lurus (istiqamah).” (HR Ahmad). []

Bagikan: