Merawat Fitrah dengan Kebaikan
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 21 Rabiul Awwal 1447 H/ 14 September 2025 M
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
122_merawat-fitrah-dengan-kebaikan.pdf · 146.2 KB
Islam, agama yang kita cintai dan imani kebenarannya ini menempatkan perbaikan jiwa (al-islah an-nafs) sebagai tiang pertama mewujudkan kebaikan dalam kehidupan manusia. Sebab, ada hubungan yang sangat erat antara jiwa yang baik dan perbuatan baik. Manakala jiwa manusia tidak baik, kebaikan akan sulit dilakukan. Ini pendapat Syekh Muhammad al-Ghazali ketika beliau merenungi QS ar-Ra’d ayat 11. Syekh al-Ghazali mengatakan,
ومن هنا كان الإصلاح النفسي الدعامة الأولي لتغليب الخير فى هذه الحياة فإذا لم تصلح النفوس أظلمت الأفاق وسادت الفتن حاضر الناس ومستقبلهم ولذلك قال الله تعالى : اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
[Dari sini, perbaikan jiwa adalah tiang pertama terwujudnya kebaikan dalam hidup ini. Jika jiwa tidak baik, cakrawala kehidupan ini akan menjadi gelap dan perselihan akan merajalela baik di masa kini dan masa depan manusia. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia]. (Muh. Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, h. 11).
Di antara petunjuk agama dalam perbaikan jiwa itu adalah mengikuti fitrah yang ada pada diri manusia. Nantinya, seorang Muslim akan memahami bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah. Jalan menjaga fitrah tersebut ditempuh melalui pelaksanaan nasehat-nasehat agama baik itu dalam bentuk perintah, larangan atau anjuran. Syekh Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa pemahaman tersebut dapat difahami lewat rangkaian ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan mengenai fitrah manusia, yaitu QS ar-Rum ayat 30-32. Allah SWT berfirman sebagai berikut:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ. مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ.
Artinya: Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.588) Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat) kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. []