Kajian ke-106

Merasakan Ma'iyatullah

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 8 Zulkaidah 1446/ 4 Mei 2025
  • 2 menit baca
  • 1
Pratinjau video Merasakan Ma'iyatullah

Materi kajian tersedia

106_merasakan-maiyatullah.pdf · 176 KB

Unduh PDF

Ma’iyyatullah artinya kebersamaan Allah. Ma’iyyatullah terdiri dari dua kata, pertama: Ma’iyyah yang artinya kebersamaan, kedua: Allah. Dengan demikian, sederhananya makna Ma’iyatullah itu adalah bahwa Allah SWT akan membersamai hamba-Nya.

Ma’iyatullah dalam Al-Quran terbagi dua yaitu:

Ma’iyyah Umum

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hadid [57]: 4).

Dr. Ali ash-Shalabi mengatakan bahwa Ma’iyyah Umum ini berlaku untuk semua hamba-Nya, baik itu yang Mukmin mau pun yang kafir. Bahwa Allah Mahatahu atas segala yang terjadi pada hamba-Nya. Maka, seharusnya dengan Ma’iyyah ini manusia memperhitungkan seluruh tindakannya.

Ma’iyyah Khusus

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya: Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS at-Taubah [9]: 40).

Dr. Ali ash-Shalabi mengatakan bahwa Ma’iyyah Khusus ini diberikan kepada para Nabi dan wali (kekasih)-Nya melalui bantuan dan pertolongan-Nya. Ma’iyyah ini diperoleh melalui Husnuz Zan (baik sangka) kepada Allah, rida (rela) atas semua ketentuan-Nya, menjaga ketaatan kepada-Nya di dunia ini. []

Bagikan: