Kajian ke-105

Berbaik Sangka kepada Sesama

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 28 Syawal 1446/ 27 April 2025
  • 2 menit baca
  • 1
Pratinjau video Berbaik Sangka kepada Sesama

Materi kajian tersedia

105_berbaik-sangka-kepada-sesama.pdf · 156.8 KB

Unduh PDF

Baik sangka (husnuẓ ẓan) adalah akhlak seorang Mukmin

Allah SWT berfirman,

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ

Artinya: Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?” (QS an-Nur [24]: 12).

Ayat ini menggambarkan akhlak orang yang beriman ketika mendengar kabar tidak baik mengenai saudaranya seiman. Ayat ini turun terkait peristiwa Hadis al-Ifki (berita dusta) yang menimpa Ummul Mukminin, Siti Aisyah r.a. Kisah tertuju kepada pasangan suami – istri, Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Anshari dan istrinya. “Abu Ayyub, apa kamu dengar berita tentang Aisyah?” Tanya sang istri. “Iya, aku sudah dengar, dan itu berita bohong.” Jawab Abu Ayyub. “Apa kamu percaya itu wahai istriku?” Tentu saja tidak.” Jawab sang istri. “Aisyah jauh lebih baik daripada kamu.” Pungkas Abu Ayyub.

Baik sangka itu akan menutup pintu fitnah dan dosa

Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. (QS al-Hujurat [49]: 12).

Maksud sebagian prasangka itu dosa, menurut para ulama, adalah prasangka buruk. Prasangka seperti ini akan membuka pintu-pintu dosa. Baginda Nabi ketika beliau ditanya, bagaimana seseorang bisa terhindar dari prasangka? Sabda Nabi, idza zananta fa la tuhaqqiq (apabila kamu berprasangka jangan simpulkan itu sebagai kepastian).

Syekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi memberi kita tips untuk bisa berbaik sangka kepada sesama. Dalam bergaul pandanglah manusia sebagai manusia yang tercipta dari tanah, bukan sebagai malaikat yang dicipta dari nur (cahaya). Artinya semua manusia tidak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah. Ini akan membantu seseorang untuk selalu mendahulukan sikap berbaik sangka kepada orang lain. Sebagaimana firman Allah ketika mengisahkan perihal Nabi Adam as,

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا

Artinya: Sungguh telah Kami perintahkan Adam dahulu (agar tidak mendekati pohon keabadian), tetapi dia lupa dan Kami tidak mendapati padanya tekad yang kuat (untuk menjauhi larangan). (QS Thaha [20]: 115).

Bagikan: