Kajian ke-104

Indahnya Baik Sangka kepada Allah

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 21 Syawal 1446/ 20 April 2025
  • 2 menit baca
  • 1
Pratinjau video Indahnya Baik Sangka kepada Allah

Materi kajian tersedia

104_indahnya-baik-sangka-kepada-allah.pdf · 170.7 KB

Unduh PDF

Orang yang selalu menjaga baik sangkanya kepada Allah akan selalu berada dalam kebaikan. Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud berkata,

وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ مُؤْمِنٌ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ لَا يُحْسِنُ عَبْدٌ بِاللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ الظَّنَّ إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ ظَنُّهُ ذَلِكَ بِأَنَّ الْخَيْرَ فِي يَدِهِ

Artinya: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, seorang hamba yang Mukmin tidak diberi sesuatu yang lebih baik melebihi baik sangka kepada Allah ‘Azza wa jalla. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, seorang hamba yang tidak berbaik sangka kepada Allah, maka Allah ‘Azza wa jalla akan mewujudkan persangkaannya itu. Karena sungguh kebaikan berada di tangan (dalam kekuasaan) Allah.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya).

Bagaimana wujud baik sangka kepada Allah (husnuz zhan billah)?

Penjelasan Dr. Ali Ṣalabī bisa menjadi rujukan, yaitu:

تَوَقُّعُ كُلِّ جَمِيْلٍ وَحَسَنٍ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى فَيَظُنُّ الْعَبْدُ بِرَبِّهِ الرَّحْمَةَ وَيَرْجُوْ ذَلِكَ مَعَ الْأَخْذِ بِكَافَةِ اْلأَسْبَابِ وَسُؤَالِ اللّٰهِ تَعَالَى أَلَّا يَكِلُهُ إِلَى تِلْكَ الْأَعْمَالِ وَإِنَّمَا إِلَيْهِ وَحْدَهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَالِ اْلقُلُوْبِ وَمَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ خَيْراً أَفْضَلُ مِنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِخَالِقِهِ فَحُسْنُ الظَّنِّ باِللّٰهِ تَعَالَى مِنْ حُسْنِ عِبَادَةِ الْمُسْلِمِ

Terjemahannya: Memprediksi (meramal) segala yang baik dan indah dari Allah SWT. Seorang hamba meyakini rahmat (kasih sayang) Allah dan ia selalu berharap kepada-Nya seraya mengerahkan segala daya dan upaya memohon kepada Allah agar tidak menyerahkan dirinya kepada amalan-amalan tersebut, melainkan hanya kepada-Nya saja. Dan itu semua adalah amalan hati. Tidaklah seorang hamba yang beriman diberi sesuatu yang lebih baik daripada berbaik sangka kepada Sang Penciptanya. Maka baik sangka kepada Allah merupakan bagian dari ibadah yang baik bagi seorang muslim.

Meneladani baik sangka para Nabi kepada Allah. Misalnya, prasangka baik Nabi Musa as ketika ia dan pengikutnya sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

Allah SWT berfirman,

فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ . قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ . فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ

Artinya: Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul. Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.” Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.” (QS asy-Syu’arā [26]: 61-63).

Bagikan: