Kajian ke-172

Canda dan Pujian, Dua Ujian Kejujuran

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • 4 Oktober 2026
  • 2 menit baca
  • 2
Pratinjau video Canda dan Pujian, Dua Ujian Kejujuran

Materi kajian tersedia

172-canda-dan-pujian-dua-ujian-kejujuran.pdf · 184.5 KB

Unduh PDF

Canda: Menguji kejujuran di tengah keceriaan

Syekh Ghazali berkata, 

وَالْمَرْءُ قَدْ يَتَسَهَّلُ الْكَذِبَ حِينَ يَمْزَحُ!! حَاسِبًا أَنَّ مَجَالَ اللَّهْوِ لَا حَظْرَ فِيهِ عَلَى إِخْبَارٍ أَوِ اخْتِلَاقٍ وَلَكِنَّ الْإِسْلَامَ الَّذِي أَبَاحَ التَّرْوِيحَ عَنِ الْقُلُوبِ لَمْ يَرْضَ وَسِيلَةً لِذَلِكَ إِلَّا فِي حُدُودِ الصِّدْقِ الْمَحْضِ فَإِنَّ فِي الْحَلَالِ مَنْدُوحَةً عَنِ الْحَرَامِ وَفِي الْحَقِّ غِنًى عَنِ الْبَاطِلِ. 

“Seseorang terkadang menganggap remeh kebohongan ketika ia sedang bercanda, karena mengira bahwa dalam suasana bersenda gurau tidak ada larangan untuk menyampaikan berita yang tidak benar ataupun mengada-adakan sesuatu. Akan tetapi, Islam yang membolehkan hiburan untuk menyegarkan hati tidak membenarkan sarana untuk itu kecuali dalam batas-batas kejujuran yang murni. Sebab, dalam perkara yang halal terdapat keleluasaan sehingga tidak perlu mengambil yang haram, dan dalam kebenaran terdapat kecukupan sehingga tidak membutuhkan kebatilan.” (Muh. al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, hlm. 35)

Nabi saw bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Artinya: "Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir walaupun ia benar, sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun bercanda, dan sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang baik akhlaknya." (HR Abu Dawud). 

Pujian: Menguji kejujuran di tengah kekaguman

Syekh al-Ghazali berkata, 

وَتَمْدَحُ النَّاسَ مَدْرَجَةً إِلَى الْكَذِبِ وَالْمُسْلِمُ يَجِبُ أَنْ يُحَاذِرَ حِينَما يُثْنِي عَلَى غَيْرِهِ فَلَا يَذْكُرُ إِلَّا مَا يَعْلَمُ مِنْ خَيْرٍ وَلَا يَجْنَحُ إِلَى الْمُبَالَغَةِ فِي تَضْخِيمِ الْمَحَامِدِ وَطَيِّ الْمَثَالِبِ وَمَهْمَا كَانَ الْمَمْدُوحُ جَدِيرًا بِالثَّنَاءِ فَإِنَّ الْمُبَالَغَةَ فِي إِطْرَائِهِ ضَرْبٌ مِنَ الْكَذِبِ الْمُحَرَّمِ 

“Dan memuji manusia merupakan jalan menuju kebohongan. Seorang Muslim wajib berhati-hati ketika memuji orang lain. Ia tidak menyebutkan kecuali kebaikan yang diketahuinya, dan tidak cenderung kepada sikap berlebihan dalam membesar-besarkan berbagai keutamaan serta menyembunyikan berbagai kekurangan. Bagaimanapun orang yang dipuji memang layak mendapatkan pujian, sesungguhnya berlebihan dalam menyanjungnya merupakan salah satu bentuk kebohongan yang diharamkan.” (Muh. al-Ghazali, hlm. 36).

Nabi saw bersabda,

أَثْنَى رَجُلٌ عَلَى رَجُلٍ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ أَخِيكَ -ثَلَاثًا- مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا إِنْ كَانَ يَعْلَمُ

Artinya: Seorang laki-laki memuji orang lain di hadapan Nabi saw. Beliau lalu bersabda, ‘Celaka engkau! Engkau telah memotong leher saudaramu’—beliau mengulanginya tiga kali. ‘Jika salah seorang di antara kalian harus memuji seseorang, hendaklah ia berkata: Menurut saya, si fulan demikian, dan Allah yang paling mengetahui keadaannya. Saya tidak menyatakan seseorang suci di hadapan Allah, jika memang saya mengetahuinya. (HR al-Bukhari). 

Bagikan: