Kajian ke-174

Jangan Anggap Remeh Kebohongan

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 7 Jumadil Awal 1448/18 Oktober 2026
  • 2 menit baca
  • 2
Pratinjau video Jangan Anggap Remeh Kebohongan

Materi kajian tersedia

174-jangan-anggap-remeh-kebohongan.pdf · 180.4 KB

Unduh PDF

Kebohongan sebagai cermin kerusakan moral

Syekh Ghazali berkata, 

وَالْكَذِبُ رَذِيلَةٌ مَحْضَةٌ تُنْبِئُ عَنْ تَغَلْغُلِ الْفَسَادِ فِي نَفْسِ صَاحِبِهَا،وَعَنْ سُلُوكٍ يُنْشِئُ الشَّرَّ إِنْشَاءً،وَيَنْدَفِعُ إِلَى الْإِثْمِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ مُلْجِئَةٍ أَوْ طَبِيعَةٍ قَاهِرَةٍ. 

“Kebohongan merupakan keburukan moral yang murni. Ia menunjukkan telah meresapnya kerusakan ke dalam jiwa pelakunya, serta mencerminkan perilaku yang secara sengaja melahirkan keburukan dan mendorong seseorang melakukan dosa tanpa adanya keadaan darurat yang memaksanya atau dorongan tabiat yang tidak dapat dikendalikan.”. (Muh. al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, hlm. 33)

Dusta bukanlah sifat orang Mukmin

Syekh al-Ghazali berkata, 

وَقَدْ تَكُونُ هُنَاكَ أَعْذَارٌ لِمَنْ يَشْعُرُونَ بِوَسَاوِسِ الْحِرْصِ أَوِ الْخَوْفِ عِنْدَمَا يُوقَفُونَ فِي مَيَادِينِ التَّضْحِيَةِ وَالْفِدَاءِ وَلَكِنْ لَا عُذْرَ الْبَتَّةَ لِمَنْ يَتَّخِذُونَ الْكَذِبَ خُلُقًا وَيَعِيشُونَ بِهِ عَلَى خَدِيعَةِ النَّاسِ. 

“Orang yang diliputi kecemasan karena terlalu berhati-hati atau takut ketika dihadapkan pada situasi yang menuntut pengorbanan mungkin masih memiliki alasan untuk dimaklumi. Namun, sama sekali tidak ada alasan untuk membenarkan orang yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan dan menggunakannya untuk menipu orang lain.” (Muh. al-Ghazali, hlm. 33).

Nabi saw bersabda,

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلَالِ كُلِّهَا إِلَّا الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

Artinya: “Seorang mukmin dapat memiliki berbagai sifat, tetapi tidak semestinya memiliki sifat khianat dan dusta.” (HR Ahmad). 

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا؟ فَقَالَ: نَعَمْ. فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا؟ فَقَالَ: لَا.

Artinya: Rasulullah saw. pernah ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?” Beliau menjawab, “Ya.” Kemudian beliau ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi orang yang kikir?” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu beliau ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?” Beliau menjawab, “Tidak.” (HR Malik).

Ancaman akhirat bagi pendusta yang kebohongannya tersebar luas

Nabi saw bersabda, 

رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا: الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذِبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Artinya: “Tadi malam aku bermimpi melihat dua orang laki-laki datang kepadaku. Keduanya berkata, ‘Orang yang engkau lihat sedang dirobek sudut mulutnya adalah seorang pendusta. Ia berbohong dengan suatu kebohongan yang kemudian tersebar luas hingga mencapai berbagai penjuru dunia. Karena itulah, ia terus mendapatkan hukuman tersebut hingga hari kiamat.’” (HR al-Bukhari). 

Bagikan: