Kajian ke-162

Nikmatnya Keikhlasan

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 3 Safar 1448/ 19 Juli 2026
  • 2 menit baca
  • 28
Pratinjau video Nikmatnya Keikhlasan

Materi kajian tersedia

162_nikmatnya-keikhlasan.pdf · 146.8 KB

Unduh PDF

Keikhlasan bukan sekadar hiasan dalam beramal, melainkan fondasi utama yang menentukan bernilai atau tidaknya sebuah penghambaan di sisi Allah. Ketika seseorang berhasil memurnikan niatnya hanya untuk mencari rida Allah, seluruh orientasi hidupnya akan berubah. Syekh Muhammad al-Ghazali dalam buku Khuluq al-Muslim menyajikan Sabda-sabda Nabi SAW yang berkenaan dengan kekuatan keikhlasan, antara lain sebagai berikut:

1. Pentingnya memurnikan niat (ikhlas)

Hadis Nabi:

قَالَ النَّبِيَُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «أَخْلِصْ دِينَكَ يَكْفِكَ الْقَلِيلُ مِنَ الْعَمَلِ

Artinya: Nabi SAW bersabda kepada Mu'adz bin Jabal r.a.: "Ikhlaskanlah agamamu (niatmu), niscaya amal yang sedikit pun akan cukup bagimu." (HR al-Hakim).

2. Mewaspadai penyakit yang merusak keikhlasan

Setelah memahami pentingnya ikhlas, tantangan terbesar kita adalah merawatnya dari penyakit hati, terutama riya (ingin dipuji) yang merupakan syirik kecil. Ujian ini melahirkan profil manusia istimewa (al-akhfiya) yaitu hamba-hamba pilihan yang tidak silau oleh popularitas dunia. Mereka fokus pada penilaian Allah sehingga meskipun nama mereka tidak dikenal di bumi, nama mereka sangat masyhur di langit.

Hadis Nabi:

إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الدجَى يَخْرُجُونَ مِنْ كلِ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ الْيَسِيرُ مِنَ الرَِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللهِ فَقَدْ بَارَزَ اللَهَ بِالْمُحَارَبَةِ إِن اللَهَ يِحب الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ الَذِينَ

Artinya: Nabi SAW bersabda: “Sedikit saja dari riya adalah syirik. Dan barangsiapa memusuhi para kekasih (wali) Allah, maka sungguh ia telah menantang Allah untuk berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbakti (berbuat baik), bertakwa, lagi tersembunyi (tidak populer); yang jika mereka tidak ada tidak dicari, dan jika mereka hadir tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk (di tengah kegelapan), mereka keluar dari setiap fitnah yang kelam dan gelap gulita.” (HR al-Hakim).

3. Istikamah dalam menjaga keikhlasan hingga akhir hayat

Puncak dari perjalanan merawat keikhlasan dan menjauhi riya adalah istikamah hingga ajal menjemput. Inilah tujuan akhir dari setiap mukmin. Ketika seseorang berhasil menjaga ketauhidan, salat, zakat, dan keikhlasannya hingga hembusan napas terakhir, ia akan melangkah meninggalkan dunia ini dengan membawa bekal terindah, yaitu rida dari Allah.

Hadis Nabi:

مَنْ فَارَقَ الدَُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَكَاةِ فَارَقَهَا وَاللَهُ عَنْهُ رَاضٍ

Artinya: Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpisah dengan dunia (meninggal dunia) dalam keadaan ikhlas karena Allah semata, beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia berpisah dengannya (dunia) dalam keadaan Allah ridha kepadanya.” (HR Ibnu Majah).

Bagikan: