Kajian ke-161

Akhlak yang Dicintai Allah

  • Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
  • Ahad, 26 Muharam 1448/ 12 Juli 2026
  • 3 menit baca
  • 3
Pratinjau video Akhlak yang Dicintai Allah

Materi kajian tersedia

161_akhlak-yang-dicintai-allah.pdf · 262 KB

Unduh PDF

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

Wa lā tuṣa‘‘ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā(n), innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr(in).

Artinya: Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS. Luqmān [31]: 18).

Al-Qurṭubī menafsirkan QS. Luqmān [31]:18 sebagai pedoman akhlak yang mengatur sikap seorang muslim dalam berhubungan dengan sesama. Pokok-pokok penafsirannya meliputi tiga aspek berikut.

Tidak bersikap sombong dan merendahkan orang lain

Imam al-Qurṭubī menjelaskan bahwa kata taṣa‘‘ir berasal dari al-ṣa‘ar, yaitu penyakit yang menyebabkan leher unta menjadi miring. Dari makna bahasa ini lahir makna kiasan, yakni memalingkan wajah dari orang lain karena kesombongan. Menurut beliau, ayat ini melarang seseorang berpaling dari manusia dengan sikap angkuh, merasa lebih tinggi, atau memandang rendah orang lain. Untuk memperkuat makna tersebut, Al-Qurṭubī mengutip hadis Nabi saw.: "Akan datang suatu masa ketika manusia tidak tersisa kecuali orang yang aṣ‘ar atau abtar." Beliau menjelaskan bahwa aṣ‘ar adalah orang yang memalingkan wajahnya karena kesombongan, sedangkan hadis ini menggambarkan rusaknya akhlak manusia ketika sifat angkuh telah menjadi kebiasaan.

Membangun hubungan yang baik dengan sesama melalui sikap tawaduk

Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah menghadap kepada manusia dengan sikap rendah hati, ramah, dan menghargai mereka. Seseorang hendaknya bersikap terbuka dan mendengarkan pembicaraan orang lain, sekalipun yang berbicara adalah orang yang lebih muda. Menurut beliau, demikianlah akhlak Rasulullah saw. Untuk menegaskan makna tersebut, Al-Qurṭubī mengutip hadis Nabi saw. riwayat Anas bin Malik: "Janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, dan saling mendengki. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari." Hadis ini menunjukkan bahwa memalingkan wajah dan menjauhi orang lain merupakan bagian dari sikap yang merusak persaudaraan, sedangkan ayat ini mengajarkan sebaliknya, yaitu menjaga hubungan yang baik dengan penuh penghormatan.

Tidak berjalan dengan penuh keangkuhan dan membanggakan diri

Dalam menafsirkan firman Allah "wa lā tamsyi fi al-arḍi maraḥā", al-Qurṭubī menjelaskan bahwa yang dilarang adalah berjalan dengan penuh kesombongan, keangkuhan, dan rasa bangga terhadap diri sendiri. Menurut beliau, sifat ini melekat pada orang yang suka berbangga dengan harta, kedudukan, atau keturunan, tetapi tidak mensyukuri nikmat Allah. Oleh karena itu, ayat ini mengajarkan agar seorang muslim membiasakan sikap rendah hati, sederhana, dan menyadari bahwa setiap kelebihan merupakan karunia Allah yang harus disyukuri, bukan dijadikan alasan untuk menyombongkan diri.

Bagikan: