Tawazun Hati
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 8 Zulkaidah 1447/ 26 April 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
150_tawazun-hati.pdf · 216.1 KB
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا. اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا.
Rabbanaṣrif ‘annā ‘ażāba jahannam(a), inna ‘ażābahā kāna garāmā(n). Innahā sā'at mustaqarraw wa muqāmā(n).
Artinya: “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal.” Sesungguhnya ia (Jahanam itu) adalah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk. (QS al-Furqan [25]: 65-66).
Doa ini berdasarkan teks awal ayatnya merupakan doa yang senantiasa dibaca oleh hamba Allah (‘ibādur-raḥmān). Imam al-Alusi menafsirkan bahwa doa ini mereka ucapkan dalam keseharian mereka, fī ‘āmmah ahwālihim. Sedangkan, Imam al-Qurtubi yang mengambil pendapat sahabat Nabi, Abdullah Ibn Abbas mengatakan bahwa doa tersebut mereka baca dalam salat (ketika sujud atau pun berdiri).
Selain itu, doa di atas menunjukkan tentang konsep keseimbangan (tawāzun) yang matang pada diri manusia yang telah mengenal Allah (Tuhan) dengan baik, yaitu keseimbangan antara harapan (rajā’) dan rasa takut (khauf). Harapan memperoleh rahmat Allah berupa surga; rasa takut agar terhindar dari murka-Nya berupa neraka.
Namun, sesungguhnya rahmat Allah lebih besar daripada murka-Nya. Adalah keyakinan yang selayaknya selalu tertanam kuat dalam hati seorang Mukmin. Pandangan inilah yang ditekankan oleh Imam Ibn Kaṡir sehingga ketika menafsirkan QS al-Furqan ayat 66 beliau menyertakan Hadis Nabi yang membuktikan besarnya rahmat Allah SWT untuk para hamba-Nya. Bahkan, meski ia sedang berada di dalam neraka. Hadisnya sebagai berikut:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رَضِيَ اللهُ عَنْهُ - عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ عَبْدًا فِي جَهَنَّمَ لَيُنَادِي أَلْفَ سَنَةٍ: يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ. فَيَقُولُ اللهُ لِجِبْرِيلَ: اذْهَبْ فَآتِنِي بِعَبْدِي هَذَا. فَيَنْطَلِقُ جِبْرِيلُ فَيَجِدُ أَهْلَ النَّارِ مُنْكَبِّينَ يَبْكُونَ، فَيَرْجِعُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُخْبِرُهُ، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: آتِنِي بِهِ فَإِنَّهُ فِي مَكَانِ كَذَا وَكَذَا. فَيَجِيءُ بِهِ فَيُوقِفُهُ عَلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ لَهُ: يَا عَبْدِي كَيْفَ وَجَدْتَ مَكَانَكَ وَمَقِيلَكَ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ شَرَّ مَكَانٍ شَرَّ مَقِيلٍ. فَيَقُولُ: رُدُّوا عَبْدِي. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا كُنْتُ أَرْجُو إِذْ أَخْرَجْتَنِي مِنْهَا أَنْ تَرُدَّنِي فِيهَا! فَيَقُولُ: دَعُوا عَبْدِي
Artinya: Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba di neraka Jahanam benar-benar berseru selama seribu tahun: 'Yā Hannān (Wahai Yang Maha Pengasih), Yā Mannān (Wahai Yang Maha Pemberi Karunia).' Lalu Allah berfirman kepada Jibril: 'Pergilah dan bawalah hamba-Ku ini kepada-Ku.' Jibril pun pergi namun ia mendapati para penghuni neraka sedang tersungkur menangis, sehingga ia kembali kepada Allah dan mengabarkan hal itu. Allah kemudian berfirman: 'Bawalah dia kepada-Ku karena ia berada di tempat anu dan anu.' Maka Jibril datang membawanya dan menghadapkannya kepada Tuhannya, lalu Allah bertanya kepadanya: 'Wahai hamba-Ku, bagaimana engkau mendapati tempatmu dan tempat istirahatmu?' Hamba itu menjawab: 'Wahai Tuhanku, ia adalah seburuk-buruk tempat dan seburuk-buruk tempat istirahat.' Allah berfirman: 'Kembalikan hamba-Ku!' Namun hamba itu berkata: 'Wahai Tuhanku, tidaklah aku berharap saat Engkau telah mengeluarkanku darinya Engkau akan mengembalikanku ke sana!' Maka Allah berfirman: 'Biarkan hamba-Ku (bebaskan dia).'" (HR Ahmad). []