Ramadan Bulan Kemenangan
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 18 Ramadan 1447/ 8 Maret 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
147_ramadan-bulan-kemenangan.pdf · 195.5 KB
Ramadan bulan kemenangan. Karena Allah menurunkan kemenangan dan pertolongan-Nya kepada Nabi saw, di antaranya dalam Perang Badar dalam bulan suci Ramadan. Detik-detik kemenangan itu termaktub dalam Al-Quran sebagai berikut:
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ. وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Artinya: (Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”. Allah tidak menjadikannya (bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Anfal [8]: 19-20).
Ramadan bulan kemenangan. Karena keimanan yang ada dalam hati orang yang bertakwa (al-Muttaqin) ketika ia puasa mampu meredam gejolak nafsunya. Sehingga yang menyeruak dalam untaian doanya adalah doa-doa dahsyat. Doa tersebut, antara lain:
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: Tidak lain ucapan mereka kecuali doa, RABBANAGFIR LANĀ ŻUNŪBANĀ WA ISRĀFANĀ FĪ AMRINĀ WA ṠABBIT AQDĀMANĀ WANṢURNĀ ‘ALAL-QAUMIL-KĀFIRĪN(A). “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami,123) tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS Āli ‘Imran (3): 147).
Hebatnya lagi, doa tersebut membentuk tiga sifat (karakter) positif yang menjadi rahasia di balik setiap kemenangan yang diraih oleh manusia sepanjang zaman. Sifat itu adalah jiwa yang tidak lemah (laisa lahum wahan), fisik yang tidak lemah (laisa lahum ḍa’f), tekad yang lemah (laisa lahum istikanah). Semua sifat baik itu tergambar dengan begitu jelas dalam firman Allah SWT berikut ini:
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: Betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(-nya) yang Ribbiyyun (bertakwa). Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar. (QS Āli ‘Imran (3): 146).