Manusia Sangat Butuh Agama
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 29 Safar 1447 H/ 24 Agustus 2025
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
120_manusia-sangat-butuh-agama.pdf · 151.2 KB
Karena manusia punya sifat-sifat dasar yang buruk. Allah SWT berfirman:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا.
Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah. Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir. (QS al-Ma’arij [70]: 19-21).
Syekh Muhammad al-Ghazali memahami ayat ini sebagai penjelasan Allah tentang tabiat manusia. Penjelasan tersebut tidak sebatas hanya penjelasan saja. Melainkan Allah menyertakan solusi (jalan keluar) dari tabiat buruk itu. Al-Ghazali mengatakan:
"فَحَيْثُ يَصِفُ الْقُرْآنُ الْإِنْسَانَ بِالضَّعْفِ وَالتَّرَدُّدِ وَالْأَثَرَةِ, يَذْكُرُ أَنَّ النَّظَافَةَ مِنْ هَذِهِ الرَّذَائِلِ عَنْ طَرِيْقِ الدِّيْنِ وَوَصَايَاهُ فَحَسْبُ ."
[Ketika Al-Quran menggambarkan manusia sebagai makhluk yang lemah, ragu-ragu, dan egois, Al-Quran menyatakan bahwa pemurnian dari sifat-sifat buruk tersebut hanya dapat dicapai melalui agama dan perintah-perintahnya]. (Muh. Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, hlm. 26).
Melalui agama (Islam), Allah SWT menyediakan solusi yang tertuang sangat indah di dalam rangkaian ayat-ayat surat al-Ma’arij, yaitu:
اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَ. وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ. وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ. وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ. اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ. وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ.
Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. Yang selalu setia mengerjakan salatnya. Yang di dalam hartanya ada bagian tertentu. Untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan orang (miskin) yang menahan diri dari meminta-minta. Yang memercayai hari Pembalasan. Dan yang takut terhadap azab Tuhannya. Sesungguhnya tidak ada orang yang merasa aman dari azab Tuhan mereka. (Termasuk orang yang selamat dari azab adalah) Orang-orang yang menjaga kemaluannya. (QS al-Ma’arij [70]: 22-29).
Solusi membersihkan sifat-sifat buruk manusia itu melalui salat, zakat, membenarkan Hari Pembalasan, serta memelihara kehormatan diri (kemaluan), agar membuahkan hasil, menurut Syekh al-Ghazali harus ditempuh secara istiqamah. Beliau mengatakan:
وَالْمَعْرُوْفُ أَنَّ الْخَلْقَ لَا يَتَكَوَّنُ فِى النَّفْسِ فُجْأَةً وَلَا يُوْلَدُ قَوِيًّا نَاضِجًا بَلْ يَتَكَوَّنُ عَلَى مَرَاحِلَ وَهَذَا سِرُّ اِرْتِبَاطِ نَمَائِهِ بِأَعْمَالٍ مُتَكَرِّرَةٍ وَخِلَالَ لَهَا صِفَةُ الدَّوَامِ ...
[Telah diketahui bahwa karakter tidak terbentuk dalam jiwa secara tiba-tiba, tidak pula ia dilahirkan kuat dan dewasa, melainkan dibentuk secara bertahap, dan inilah rahasia perkembangannya yang terkait dengan tindakan yang berulang-ulang dan melaluinya ia memiliki kualitas yang permanen ... ]. (Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, hlm. 26).