Akhlak Lemah karena Iman yang Lemah
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 8 Safar 1447 H/ 3 Agustus 2025 M
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
118_akhlak-lemah-karena-iman-yang-lemah.pdf · 151.9 KB
Syekh Muhammad al-Ghazali menilai bahwa tinggi-rendahnya akhlak ditentukan oleh kadar keimanan. Pandangan al-Ghazali ini tiada lain berangkat dari renungannya terhadap ayat Al-Quran yang berkaitan dengan akhlak. Al-Ghazali mengatakan:
الْإِيْمَانُ قُوَّةٌ عَاصِمَةٌ عَنِ الدُّنْيَا, دَافِعَةٌ إِلَى الْمُكَرَّمَاتِ وَمِنْ ثَمَّ فَإِنَّ اللَّهَ عِنْدَمَا يَدْعُو عِبَادَهُ إِلىَ خَيْرٍ أَوْ يَنْفُرُهُمْ مِنْ شَرٍّ يَجْعَلُ ذَلِكَ مُقْتَضَى الْإِيْمَانِ الْمُسْتَقِرِّ فِى قُلُوْبِهِمْ (( اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ )) }التوبة:119{ مَثَلًا. وَقَدْ وَضَحَ صَاحِبُ الرِّسَالَةِ أَنَّ اْلإِيْمَانَ الْقَوِيَّ يَلِدُ الْخُلُقَ الْقَوِيِّ حَتْمًا, وَأَنَّ إِنْهِيَارَ الْأَخْلَاقِ مَرَدَهُ إِلَى ضَعْفِ الْإِيْمَانِ أَوْ فَقْدَانِهِ بِحَسَبِ تَفَاقُمِ الشَّرِّ أَوْ تَفَاهُتِهِ ..
Artinya: Iman adalah kekuatan yang melindungi dari dunia dan mendorong manusia berbuat baik. Oleh karena itu, ketika Allah menyeru hamba-Nya melakukan kebaikan atau menjauhkan mereka dari keburukan, Dia menjadikannya ditentukan oleh iman yang tertanam kuat di hati mereka. Misalnya, firman Allah SWT: ((Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar)) (QS at-Taubah: 119). Allah SWT telah menjelaskan bahwa iman yang kuat pasti akan menghasilkan akhlak yang kuat. Runtuhnya akhlak disebabkan oleh lemahnya atau hilangnya iman, tergantung pada berat atau ringannya keburukan itu. (Muh. Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, h. 11).
Selain renungan dari Al-Quran, Syekh al-Ghazali juga menemukan hubungan yang erat antara iman dan akhlak mulia dalam sabda-sabda Baginda Nabi saw.
Misalnya, orang yang wajahnya bengis, perilakunya buruk, melakukan kejahatan tanpa peduli siapa pun. Nabi menjelaskan apa sebabnya. Karena tidak ada iman dan rasa malu. Sabda Nabi saw,
إِنَّ الْحَيَاءَ وَاْلإِيْمَانَ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ
Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a., Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya rasa malu dan iman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, jika yang satu hilang, yang lainnya pun ikut hilang.” (HR. al-Hakim, al-Tabrani).
Misal yang lain. Orang yang tidak baik hubungan sosialnya dengan tetangga. Ucapan dan perilakunya sering menyakiti hati dan melukai perasaan tetangganya. Nabi pun sudah menjelaskan apa penyebabnya. Orang itu tidak beriman dengan baik. Sabda Nabi saw,
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَمَنْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوايِقَهُ.
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Saat Rasulullah saw ditanya apa maksudnya, beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukan-keburukannya.” (HR. al-Bukhari). []