Akhlak Mulia itu Cerminan dari Ibadah
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 1 Safar 1447 H/ 27 Juli 2025 M
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
117_akhlak-mulia-itu-cerminan-dari-ibadah.pdf · 151.7 KB
Islam agama yang tujuan utama (al-ghāyah al-ūlā) nya membangun akhlak mulia.
Nabi Muhammad saw menegaskan tujuan tersebut dalam sabda beliau yang masyhur:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Baihaqi).
Tujuan utama penyempurnaan akhlak itu, menurut Syekh Muhammad al-Ghazali dalam buku Khuluq al-Muslim terepresentasi (mewujud) dalam ibadah-ibadah pokok yang menjadi rukun Islam. Menurut al-Ghazali, ibadah itu tidak sebatas ritual, hampa tanpa tujuan. Melainkan ditetapkan di dalamnya tujuan terkait akhlak. Al-Ghazali berkata:
... فَالْفَرَائِضُ الَّتِى أَلْزَمَ الْإِسْلَامُ بِهَا كُلَّ مُنْتِسِبٍ إِلَيْهِ هِيَ تَمَارِيْنُ مُتَكَرِّرَةٌ لِتَعْوِيْدِ الْمَرْءِ أَنْ يَحْيَا بِأَخْلَاقٍ صَحِيْحَةٍ وَأَنْ يَظُلَّ مُسْتَمْسِكًا بِهَذِهِ اْلأَخْلَاقِ مَهْمَا تَغَيَّرَتْ أَمَامَهُ الْحَيَاةُ
Artinya: Kewajiban-kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap orang yang menjadi pengikutnya adalah latihan yang berulang-ulang agar seseorang terbiasa hidup dengan akhlak yang benar dan tetap berkomitmen terhadap akhlak tersebut, betapa pun perubahan kehidupan di hadapannya.
Ambil contoh, salat fardhu yang hakikatnya, menurut al-Ghazali sangat berhubungan dengan tujuan membangun manusia yang berakhlak mulia.
فَالصَّلَاةُ الْوَاجِبَةُ عِنْدَمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهَا أَبَانَ الْحِكْمَةَ مِنْ إِقَامَتِهَا وَقَالَ: وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ (العنكبوت: 45). فَالْإِبْعَادُ عَنِ الرَّذَائِلِ وَالتَّطْهِيْرِ مِنْ سُوْءِ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ هُوَ حَقِيْقَةُ الصَّلَاةِ. وَقَدْ جَاءَ فِى حَدِيْثٍ يَرْوِيْهِ النَّبِيُّ عَنْ رَبِّهِ: (إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلَاَة مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي, وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَلَى خَلْقِي, وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي, وَقَطَعَ النَّهَارَ فِى ذِكْرِي, وَرَحِمَ الْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَاْلأَرْمِلَةَ وَرِحَم الْمُصاب). رواه البزار.
Artinya: Ketika Allah memerintahkan salat wajib, Dia menjelaskan hikmah di balik pendiriannya, dengan berfirman: "Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah kemaksiatan dan kemungkaran." (QS Al-Ankabut: 45). Menjauhi keburukan dan menyucikan diri dari perkataan dan perbuatan buruk merupakan inti dari salat. Nabi saw meriwayatkan dari Tuhannya: "Sesungguhnya Aku hanya menerima salat orang yang merendahkan diri di hadapan kebesaran-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak berlama-lama bermaksiat di malam hari, dan berzikir di siang hari, serta menyayangi orang miskin, musafir, janda-janda, dan orang yang tertimpa musibah." (HR. Al-Bazzar). []