Menapaki Jalan Taqarrub
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 27 Sya’ban 1447/ 15 Februari 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
144_menapaki-jalan-taqarrub.pdf · 177.8 KB
Seorang hamba mendekat (taqarrub) kepada Allah SWT melalui jalan doa
Allah SWT berfirman,
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS al-Baqarah [2]: 186).
Seorang hamba mendekat kepada Allah SWT melalui pelaksanaan kewajiban yang kemudian diteruskan dengan pelaksanaan amalan sunah. Hadis Qudsi berikut ini menjelaskan terkait hal tersebut,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya Allah berfirman: Barang siapa memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya ... ” (HR al-Bukhari).
Seorang hamba mendekatkan kepada Allah SWT melalui jalan sujud.
Sabda Nabi berikut ini menjadi landasannya,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Artinya: dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Saat paling dekat bagi seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud, karena itu perbanyaklah berdo'a ketika sujud." (HR Abu Dawud).
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَلَمَسْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ سَاجِدٌ وَقَدَمَاهُ مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Artinya: Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anha ia berkata: “Suatu malam aku kehilangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tersentuhlah beliau olehku di masjid, ternyata beliau sedang sujud dengan kedua telapak kakinya yang tegak ke atas, dan beliau mengucapkan: A‘ūdzu biridhāka min sakhatika, wa a‘ūdzu bi mu‘āfatika min ‘uqūbatika, wa a‘ūdzu bika minka, lā uḥṣī tsanā’an ‘alaika, anta kamā atsnaita ‘alā nafsika. (Aku berlindung kepada keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung kepada ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (ketetapan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri).” (HR Abu Dawud).