Memaksimalkan Momentum Sya'ban
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 29 Rajab 1447/ 18 Januari 2026
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
140_memaksimalkan-momentum-syaban.pdf · 187.8 KB
Bulan Sya’ban ini momen terbaik untuk peningkatan amal kebaikan. Dialog antara Usamah bin Zaid dan Nabi saw dalam Hadis berikut ini menunjukkan kemuliaan bulan Sya’ban sebagai bulan introspeksi diri dan persiapan menyambut Ramadan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
Artinya: Dari Usamah bin Zaid r.a., ia bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya‘ban?” Beliau menjawab: “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku suka apabila amalanku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.” (HR an-Nasa’i).
Dalam sejarah Islam, bulan Sya’ban erat dikaitkan dengan peristiwa peralihan kiblat salat. Dari al-Quds di Palestina ke Ka’bah di Makkah. Pelajaran yang diambil adalah sikap spontan masyarakat Muslim di zaman Nabi yang secara antusias dan cepat melaksanakan perintah tersebut. Sya’ban menjadi simbol ketaatan. Riwayat berikut ini menjelaskan peristiwa tersebut,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبَاءَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا. وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ.
Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Ketika orang-orang sedang berada di Quba dalam salat Subuh, tiba-tiba datang kepada mereka seseorang lalu berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah telah diturunkan kepadanya Al-Qur’an pada malam ini, dan beliau telah diperintahkan untuk menghadap Ka‘bah.’ Maka mereka pun menghadap ke Ka‘bah. Sebelumnya wajah-wajah mereka menghadap ke arah Syam, lalu mereka berputar menghadap ke Ka‘bah.” (HR Muttafaq ‘alaih).
Bulan Sya’ban ini momen terbaik untuk memperhatikan kebersihan hati. Orang yang hatinya bersih akan mudah mengerjakan kebaikan dan ketaatan. Hadis Nabi berikut ini indah sekali untuk dijadikan renungan.
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: Dari Abu Musa al-‘Asy’ari r.a., Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah benar-benar memperhatikan (makhluk-Nya) pada malam pertengahan bulan Sya‘ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang berbuat syirik atau orang yang menyimpan permusuhan.” (HR Ibnu Majah).
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ: كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
Artinya: Dari Abdullah ibn ‘Amru r.a., ia berkata, “Rasulullah saw ditanya: ‘Siapakah manusia yang paling utama?’ Beliau menjawab: ‘Setiap orang yang berhati bersih dan lisannya jujur.’ Mereka berkata: ‘Lisan yang jujur kami telah memahaminya, maka apakah yang dimaksud dengan hati yang bersih?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu orang yang bertakwa dan suci, tidak ada dosa padanya, tidak ada kezaliman, tidak ada kedengkian, dan tidak ada hasad (iri dengki).’” (HR Ibnu Mājah).