Memiliki Hati yang Lembut
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 2 Jumadil Akhir 1447/ 23 November 2025
- 2 menit baca
- 1
Materi kajian tersedia
132_memiliki-hati-yang-lembut.pdf · 158.9 KB
Nabi Hud ‘alaihissalam adalah contoh manusia yang berhati lembut. Allah SWT mengabadikan kelembutan hati Nabi Hud dalam firmannya berikut ini,
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ. قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ سَفَاهَةٌ وَّلٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ. اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ
Artinya: Para pemuka yang kufur di antara kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menduga bahwa kamu termasuk para pembohong.” Dia (Hud) berkata, “Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah rasul dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu risalah-risalah (amanat) Tuhanku dan aku terhadap kamu adalah penasihat yang tepercaya. (QS al-A’raf [7]: 66-68).
Nabi Muhammad saw merupakan teladan terbaik dalam kelembutan hati. Satu dari banyak sekali kisah kelembutan hati Nabi adalah riwayat berikut ini,
أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إلى النبي ﷺ يَطْلُبُ مِنْهُ شَيْئًا فَأَعْطَاهُ ثُمَّ قَالَ: أَحْسَنْتُ إِلَيْكَ قَالَ الْأَعْرَابِيُّ: لَا وَلا أَجْمَلْتَ. فَغَضِبَ الْمُسْلِمُونَ وَقامُوا إِلَيْهِ فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ أَنْ كُفُّوا ثُمَّ قَامَ وَدَخَلَ مَنْزِلَهُ وَأرْسَلَ إِلَيْهِ ﷺ وَزَادَهُ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: أَحْسَنْتُ إِلَيْكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَجَزَاكَ اللَّهُ مِنْ أَهْلٍ وَعَشِيرَةٍ خَيْرًا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: إِنَّكَ قُلْتَ مَا قُلْتَ وَفِي نَفْسِ أَصْحَابِي مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فإن أحببت فقل بين أيديهم ما قلت بَيْنَ يَدَيَّ حَتَّى يَذْهَبَ مَا فِي صُدُورِهمْ عَلَيْكَ قَالَ: نَعَمْ. فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ أَوِ الْعَشِيُّ جَاءَ، فَقَالَ ﷺ: إِنَّ هَذَا الْأَعْرَابِيَّ قَالَ مَا قَالَ فَزِدْنَاهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ رَضِيَ أَكَذَلِكَ قَالَ: نَعَمْ. فَجَزَاكَ اللَّهُ مِنْ أَهْلٍ وَعِشِيرَةٍ خَيْرًا. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَثَلِي وَمَثَلُ هَذَا مثل رَجُلٍ لَهُ نَاقَةٌ شَرَدَتْ عَلَيْهِ، فَاتَّبَعَهَا النَّاسُ فَلَمْ يَزِيدُوهَا إِلَّا نُفُورًا، فَنَادَاهُمْ صَاحِبُهَا: خَلُّوا بَيْنِي وَبَيْنَ نَاقَتِي فَإِنِّي أَرْفَقُ بِهَا مِنْكُمْ وَأَعْلَمُ فَتَوَجَّهَ لَهَا بَيْنَ يَدَيْهَا فَأَخَذَ لَهَا مِنْ قُمَامِ الْأَرْضِ فَرَدَّهَا حَتَّى جَاءَتْ وَاسْتَنَاخَتْ وَشَدَّ عَلَيْهَا رَحْلَهَا وَاسْتَوَى عَلَيْهَا وَإِنِّي لَوْ تَرَكْتُكُمْ حَيْثُ قَالَ الرَّجُلُ مَا قَالَ فَقَتَلْتُمُوهُ دَخَلَ النَّارَ
Artinya: Dari Abu Hurairah, seorang Badui-Arab datang kepada Nabi saw untuk meminta sesuatu, beliau memberinya. Kemudian Nabi bersabda, "Apakah aku telah memperlakukanmu dengan baik?" Badui itu menjawab, "Tidak, kamu sama sekali tidak berbuat baik." Kaum Muslim marah dan berdiri, tetapi beliau memberi isyarat agar mereka berhenti. Kemudian beliau bangkit, masuk ke rumahnya, dan memanggil Badui itu, memberinya sesuatu tambahan. Kemudian beliau berkata, "Apakah aku telah memperlakukanmu dengan baik?" Badui itu menjawab, "Ya. Semoga Allah membalas kebaikanmu, keluargamu dan sukumu.” Nabi bersabda kepadanya: "Kamu telah mengatakan apa yang telah kamu katakan, dan ada sesuatu di hati sahabat-sahabatku tentang hal itu. Jika kamu mau, katakan di hadapan mereka apa yang telah kamu katakan di hadapanku, agar apa yang ada di hati mereka terhadapmu hilang. Badui itu menjawab: "Ya." Keesokan harinya atau sore harinya, Badui itu pun datang. Nabi bersabda: Orang Badui ini telah berkata berkata apa seharusnya dikatakan, kami memberinya lebih banyak, dan ia mengaku puas. Benarkah demikian? Badui menjawab: Ya. Semoga Allah membalas kebaikanmu, keluargamu, dan sukumu.” Nabi bersabda: Perumpamaanku dan perumpamaan orang ini bagaikan seorang laki-laki yang untanya lari darinya. Orang-orang mengejarnya, tetapi hal itu justru membuat unta itu semakin liar. Maka pemiliknya berseru kepada mereka: Biarkan aku sendiri dengan untaku, karena aku lebih lembut padanya dan lebih tahu daripada kalian. Ia pun pergi ke unta itu dan mengambil rumput dari tanah lalu membawanya kembali. Hingga unta itu datang dan berlutut, lalu ia memasang pelana dan menungganginya. Seandainya aku meninggalkanmu di tempat orang itu berkata seperti itu, dan kalian membunuhnya, niscaya ia masuk neraka. (HR. al-Bazzar)