[90] Kemuliaan Bulan Rajab

Ahad, 5 Rajab 1446/5 Januari 2025

KEMULIAAN BULAN RAJAB
Oleh: Ustadz Taryudi, Lc., M.Ag.

  1. Bulan Rajab adalah bulan yang mulia di sisi Allah.

Kemuliaan bulan Rajab ini kita pahami berdasarkan Nash Al-Quran yang menegaskan bahwa bulan Rajab adalah bulan haram. Allah SWT berfirman,

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ …

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu). (QS at-Taubah: 36).

Baginda Nabi saw kemudian menjelaskan bahwa empat bulan haram yang disebutkan di dalam Al-Quran tersebut adalah Zulqa’dah, Zulhijah, Muharam dan Rajab. Demikian penjelasan Nabi dalam hadis sahih riwayat imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat mulia Abu Bakrah r.a.

Bulan Rajab disebut bulan haram karena Allah SWT mengharamkan kaum Mukmin melakukan perbuatan zalim di dalam bulan itu. Allah melarang orang-orang beriman melakukan kemaksiatan di dalam bulan Rajab. Ini karena waktu yang bergulir di dalam bulan Rajab bernilai mulia di sisi-Nya. Kemuliaan itulah yang seyogyanya mendorong kaum Mukmin agar bersemangat mengisi waktu-waktu di bulan Rajab dengan berbagai amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

  1. Sebagai persiapan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan.

Peningkatan ibadah di bulan Rajab selayaknya bertujuan sebagai bagian dari persiapan agar seorang Mukmin bisa maksimal melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan. Dalam tradisi kesalehan masyarakat Muslim sudah familiar diketahui bahwa saat bulan Rajab tiba itu artinya sudah tiba musim peningkatan ibadah.

Tradisi kesalehan seperti ini yang kita tangkap dari dialog antara sahabat Nabi, Usamah bin Zaid dan Baginda Nabi saw. Ketika itu, Usamah mengajukan pertanyaan kepada Baginda Nabi yang dilihatnya sangat banyak berpuasa sunah di bulan Sya’ban.

يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ،, قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ .

Artinya: Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa sunnah di bulan mana pun seperti banyaknya puasamu di bulan Syaban? Beliau bersabda: “Sya’ban itu bulan di antara Rajab dan Ramadan yang orang-orang melalaikannya.” (HR an-Nasa’i).

Senafas dengan makna hadis di atas. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam karyanya berjudul: Tabyinul ‘Ajab lima Warada fi Syahri Rajab mengatakan: “Maka Hadis ini menandakan bahwa bulan Rajab mirip dengan bulan Ramadan. Dan, orang-orang (umat Islam) menyibukkan diri dalam ibadah di bulan Rajab sama seperti kesibukan mereka beribadah di bulan Ramadhan.” []

Download Materi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 Majelis Ahad Sore Rindu Hidayah