Ahad, 17 Sya’ban 1446/16 Februari 2025
Kita Ini Butuh Taufik dari Allah
Oleh: Taryudi, Lc., M.Ag.
- Makna taufik
Imam al-Baghawi menjelaskan makna taufik sebagai berikut:
تَسْهِيْلُ سُبُلِ الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ
[Taufik adalah memperoleh kemudahan melalui jalan-jalan kebaikan dan ketaatan].
- Upaya mendapatkan taufik dari Allah
Allah SWT berfirman
وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِهٖ وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا
Artinya: Jika kamu (para wali) khawatir terjadi persengketaan di antara keduanya, utuslah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya bermaksud melakukan islah (perdamaian), niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. (QS an-Nisa’: 35).
Ayat di atas dijadikan oleh Imam al-Ghazali sebagai dalil yang menjelaskan mengenai usaha yang memungkinkan bagi seorang Muslim memperoleh taufik yaitu melalui adanya niat (karena Allah). Demikian juga imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut ia mengatakan bahwa upaya mendapatkan taufik adalah dengan qashdul khair (maksud baik). Dengan begitu, niat dan maksud baik merupakan dua cara untuk memperoleh taufik dari Allah SWT. Meski demikian, tetaplah perlu menjadi pedoman bahwa taufik itu hak Allah yang Dia akan berikan kepada yang Dia kehendaki.
- Yang menghalangi datangnya taufik
Seorang ulama kharismatik, Syaqiq al-Balkhi (w. 160 H) mengatakan sebagai berikut:
أُغْلِقَ بَابُ التَّوْفِيْقِ عَنْ سِتَّةِ أَشْيَاءً: مَنِ انْشَغَلَ بِالنِّعَمِ عَنْ شُكْرِهَا وَمَنِ انْشَغَلَ باِلْعِلْمِ عَنِ الْعَمَلِ وَمَنْ سَارَعَ إِلَى الذَّنْبِ وَتَأَخَّرَ عَنِ التَّوْبَةِ وَمَنِ اغْتَرَّ بِصُحْبَةِ الصَّالِحِيْنَ وَلَمْ يَقْتَدِ بِأْفَعَالِهِمُ الْحَسَنَةِ وَمَنْ أَعْرَضَتْ عَنْهُ الدُّنْيَا وَهُوَ يَقِفُو أَثَرَهَا وَمَنْ أَقْبَلَتْ عَلَيهِ الْآخِرَةُ وَهُوَ مُعْرِضٌ عَنْهَا
[Pintu taufik tertutup karena enam perkara: pertama, sibuk dengan nikmat sehingga tidak mensyukurinya. Kedua, sibuk mencari ilmu tapi tidak mengamalkannya. Ketiga, cepat berbuat dosa dan lambat bertaubat. Keempat, bergaul dengan orang-orang saleh tapi masih belum bisa meneladani kebaikan mereka. Kelima, ketika dunia meninggalkannya, ia malah mengejarnya. Keenam, ketika akhirat menemuinya, ia malah berpaling darinya].

