[80] Doa Setelah Tasyahud Akhir (Sesi 2)

Ahad, 10 Rabiul Akhir 1446/13 Oktober 2024

DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR (SESI 2)
Oleh: Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.

[Allahummaghfirli ma qaddamtu wa ma akh-khartu, wa ma asrartu wa ma a’lantu, ma wa asraftu, wa ma Anta a’lamu bihi minni, Antal muqaddimu wa Antal muakh-khiru, la ila illa Anta].

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu, dosa-dosaku yang kemudian, dosa-dosaku yang kusembunyikan, dosa-dosaku yang kutampakkan, dosa berlebih-lebihanku, dan semua dosa yang Engkau lebih mengetahui dariku. Engkau adalah Tuhan Yang mendahulukan dan Engkau adalah Tuhan Yang mengakhirkan, tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR Muslim).

1. Nabi saw membaca doa ini supaya diamalkan oleh umatnya.
Ini adalah doa yang dibaca oleh Nabi setelah tasyahud akhir dan sebelum salam, sesuai keterangan Ali bin Thalib. Imam Nawawi menyatakan bahwa membaca doa ini hukumnya istihbab (sunah). Menurut Prof. Dr. Khalid as-Sabt, Nabi saw membaca doa ini di dalam salatnya untuk tujuan
ta’lim yaitu mengajarkan doa ini agar umatnya mengamalkannya di dalam salat.

2. Totalitas dalam meminta ampunan kepada Allah SWT.
Dalam pandangan Prof. Dr. Khalid as-Sabt, untaian doa
Allahummaghfirli ma qaddamtu wa ma akh-khartu, wa ma asrartu wa ma a’lantu, ma wa asraftu, wa ma Anta a’lamu bihi minni membawa pesan untuk totalitas ketika minta ampunan hingga harus menguraikan macam-macam maksiat (dosa): yang dilakukan sembunyisembunyi, terang-terangan, di masa lalu dan di masa yang akan datang.

3. Allah yang menentukan kemuliaan atau kehinaan manusia.
Ini adalah makna dari doa
Antal muqaddimu wa Antal muakh-khiru. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi –dalam Kitab Syarh al-Nawawi ‘ala Muslim– berikut ini, “Engkau mendahulukan siapa saja yang Engkau kehendaki dalam ketaatan kepadaMu, dan Engkau menunda siapa pun yang kamu kehendaki dengan cara yang diwajibkan oleh kebijaksanaan-Mu, dan Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

4. Mengakhiri segala sesuatu dengan kebaikan.
Doa Nabi ini ditutup dengan kalimat tauhid,
la ila illa Anta. Ibnu Taimiyah –dalam Kitab Fatawa al-Kubra– punya penjelasan menarik. Menurutnya, “Dalam Hadis ini doa dulu baru tauhid. Sebab, di akhir salat memang diperintahkan untuk berdoa baru kemudian ditutup dengan tauhid. Supaya salat diakhiri dengan dua kebaikan utama yaitu doa dan tauhid.” []

Download Materi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 Majelis Ahad Sore Rindu Hidayah