[39] Doa Sayyidul Istigfar yang Membuat Hati Tenang

1. Teks doa Sayyidul Istigfar (pemimpin istigfar).


Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii, wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa
‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’uudzu bika min syarri maa shana’tu. Abuu u laka bini’
matika ‘alayya. Wa abuu-u bidzanbii. Faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta.

Artinya: “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang
menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu
sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku
mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh
tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR al-Bukhari).

2. Keutamaan membaca Sayyidul Istigfar secara rutin.
Dari Syaddad bin Aus, Nabi saw bersabda:


Artinya: “Sayyidul Istigfar adalah ketika seorang hamba membaca: … (teks doanya yang ada di atas).
Barangsiapa mengucapkannya (sayyidul istigfar) di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu
meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa
membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi,
maka ia termasuk penghuni surga.” (HR al-Bukhari)

3. Penjelasan ulama tentang kandungan Sayyidul Istigfar. Ibn Abi Jamrah mengatakan:


Dalam hadis ini, Nabi saw memadukan makna-makna dan kata-kata indah yang menjadikannya pantas
dinamai, Sayyidul Istigfar. Karena, di dalamnya terkandung: (1) Ikrar atas keesaan Allah, yaitu ikrar ilahiyyah
(ketuhanan) dan ikrar ubudiyah (pengabdian); (2) Pengakuan bahwa Dialah Pencipta; (3) Ikrar adanya
perjanjian dengan Allah; (4) Harapan memperoleh apa yang Allah janjikan; (5) Meminta perlindungan dari
kejahatan yang dilakukan oleh hamba terhadap dirinya sendiri; (6) Menyandarkan semua nikmat bahwa Dialah yang mendatangkannya, dan menyandarkan dosa pada diri manusia; (7) Keinginan mendapatkan
ampunan, dan pengakuan bahwa tidak yang mampu mewujudkan semua itu kecuali hanya Allah SWT. Jadi,
Sayyidul Istigfar itu menyatukan antara syariat dan hakikat. Syariat tidak bisa dilaksanakan kecuali atas
bantuan-Nya. Inilah yang disebut: hakikat. (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari).

 

Download Materi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2026 Majelis Ahad Sore Rindu Hidayah