1. Mengetahui nikmat ibadah itu beda dengan nikmat yang lain.

“Seluruh nikmat yang ada di dunia ini sifatnya hanya bisa dirasakan satu kali. Setelah
itu, nikmat tersebut akan hilang. Kecuali, nikmatnya ibadah yang dilakukan sematamata ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla. Beda dengan nikmat yang lain, karena dalam
ibadah itu melekat 3 (tiga) nikmat sekaligus. Pertama, nikmat ketika sedang ibadah.
Kedua, nikmat ketika teringat bahwa Anda sudah melaksanakannya. Ketiga, nikmat
ketika Anda diberi ganjaran pahalanya.” [Muhammad Ibrahim at-Tūjīrī, Mausū’ah Fiqh
al-Islāmī, Vol. 2, 113].
2. Mampu bersabar menikmati proses dalam ibadah.

“Seorang salik (pendaki) pada awalnya akan menemukan kelelahan melaksanakan
taklif (kewajiban) dan rasa berat beramal. Karena hatinya belum lekat dengan yang ia
sembah. Jika hati sudah mendapatkan ruh kedekatan, maka akan hilang darinya
beban-beban melaksanakan kewajiban dan rasa berat beramal itu. Salat akan menjadi
qurratu ‘ain (kunci kenyamanan hati), kekuatan, dan kenikmatan baginya.” [Ibnu alQayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Vol. 3, 373]

“20 tahun aku menderita melaksanakan salat, barulah 20 berikutnya akan benar-benar
menikmati salatku.” [Tsabit al-Bunani dalam Hilyah al-Auliya Vol 2, 321].
3. Memahami apa saja yang bisa menghilangkan kenikmatan ibadah.

“Beberapa Rabi (pemuka agama) Bani Israel berkata, “Ya Tuhan, betapa hamba telah
banyak bermaksiat kepadamu, tapi tiada kunjung Engkau hukum hamba-Mu ini?”
Dikatakan kepadanya, “Betapa Aku telah menghukummu tapi kamu tidak
mengetahuinya. Bukankah telah kuhilangkan darimu kenikmatan dalam munajatmu
kepada-Ku!” [Ibnu al-Jauzi, Shaid al-Khathir, hlm. 34].

