Ahad, 23 Ramadan 1446/ 23 Maret 2025
Agungnya Kemaafan Allah
Oleh: Taryudi, Lc., M.Ag.
- Rasulullah saw mengajari Sayyidah Aisyah r.a. doa mohon kemaafan Allah. Doa tersebut dibaca ketika Lailatul Qadar. Berikut ini teks doanya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا أَقُوْلُ فِيْهَا قَالَ : ” قُوْلِى : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى .
Dari ‘Aisyah r.a., dia berkata, “Saya berkata, ‘Ya Rasulullah, apa pandangan Anda jika saya mengetahui Lailatul Qadar, apa yang saya katakan di dalamnya?’ Beliau menjawab, “Ucapkan allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha memaafkan, menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).” (HR Ahmad, Ibnu Majah, at-Tirmidzi).
- Kemaafan Allah adalah satu dari empat nikmat besar yang menjadi poros kebahagiaan dan kesuksesan. Empat nikmat itu terdapat pada akhir ayat 286 surat al-Baqarah. Wa‘fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal qaumil-kāfirīn(a). Artinya: Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat ini,
” ثُمَّ سَأَلُوْهُ الْعَفْوَ وَالْمَغْفِرَةَ وَالرَّحْمَةَ وَالنَّصْرَ عَلَى الْأَعْدَاءِ فَإِنَّ بِهَذِهِ الْأَرْبَعَةِ تَتِمُّ لَهُمُ النِّعْمَةَ الْمُطْلَقَةَ وَلَا يَصْفُوْ عَيْشٌ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا بِهَا وَعَلَيْهَا مِدَارُ السَّعَادَةِ وَالْفَلَاحِ؛… ”
Terjemahannya: “Kemudian mereka memohon kemaafan, ampunan, rahmat, dan kemenangan atas musuhnya, karena dengan empat ini sempurnalah nikmat bagi mereka. Sucinya kehidupan dunia dan akhirat dengan empat nikmat itu. Kepada empat nikmat inilah terbentang jalan kebahagiaan dan kesuksesan.”
- Mohon kemaafan Allah akan menetralisir arogansi (keangkuhan) manusia.
Ibnu Rajab al-Hanbali melihat besarnya hikmah mengapa Nabi saw mengajarkan umatnya doa mohon kemaafan di bulan suci Ramadan. Beliau mengatakan sebagai berikut:
“وَإِنَّمَا أُمِرَ بِسُؤَالِ الْعَفْوِ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ بَعْدَ الْإِجْتِهَادِ فِى الْأَعْمَالِ فِيْهَا وَفِى لَيَالِى الْعَشْرِ لِأَنَّ الْعَارِفِيْنَ يَجْتَهِدُوْنَ فِى الْأَعْمَالِ ثُمَّ لَا يَرَوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ عَمَلَا صَالِحًا وَلَا حَالًا وَلَا مَقَالًا فَيَرْجِعُوْنَ إِلَى سُؤَالِ الْعَفْوِ كَحَالِ الْمُذْنِبِ اْلمُقْصِرِ “.
Terjemahannya: Diperintahkannya untuk berdoa memohon kemaafan pada Lailatul Qadar, setelah bersungguh melaksanakan amal saleh pada malam itu dan pada sepuluh malam akhir Ramadan. Karena orang-orang yang arif setelah mereka totalitas dalam ibadah, mereka tidak melihat diri mereka baru saja melakukan kebaikan, itu mengapa mereka segera kembali kepada Allah dengan meminta kemaafan-Nya seperti orang yang baru saja berbuat dosa dan kurang maksimal dalam ibadah. []

